Tinggalkan komentar

SIROTULMUSTAQIM: BAB VIII RAMBU-RAMBU SIROTULMUSTAQIM (PRINSIP-PRINSIP PALING DASAR PADA AHLUS SUNNAH)

A.Tauhidulloh (Mengesakan Alloh )

1. Arti Tauhid.

Tauhid adalah mengesakan Alloh  dalam rububiyah-Nya, yaitu dalam perbuatan-perbuatan ketuhanan-Nya, dan dengan mengesakan dan memuliakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta mengesakan Alloh  pada hak-hak-Nya sebagai Ilah (Tuhan) untuk seluruh alam.

2. Lawan tauhid adalah syirik.

Yaitu menyekutukan Alloh  dalam rububiyah-Nya atau dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta hak-hak ke-Ilahan-Nya, atau menyekutukan pada salah satu atau sebagiannya.

3. Kedudukan Tauhid.

a. Tauhid merupakan tujuan penciptaan manusia

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku saja.” [QS. adz-Dzariyat (51): 56]

b. Alam semesta berdiri di atas tauhid

“Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah  selain Alloh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Alloh yang mempunyai ‘Arsy (singgasana) dari pada apa yang mereka sifatkan.” [QS. al-Anbiya’ (21): 22]

c. Siapa yang berbuat syirik dan meninggalkan tauhid, maka akan kekal di neraka.

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh  mengharamkan atasnya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zolim itu seorang penolong pun.” [QS. al-Ma’idah (5): 72]

d. Alloh  tidak mengampuni dosa syirik, bila pelakunya mati sebelum bertaubat.

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [QS. an-Nisa’ (4): 48]

e. Siapa yang memegang tauhid dan tidak berbuat syirik, akan masuk surga.

Rosululloh  bersabda:

“Seorang laki-laki dari umatku dipanggil di hadapan para makhluk pada hari kiamat. Kemudian ditampakkan kepadanya 99 lembar catatan. Setiap lembarnya sejauh mata memandang. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Apakah engkau mengingkari ini?’. Ia berkata: ‘Tidak, wahai Robb!’. Lalu dikatakan: ‘Apakah engkau memiliki suatu kebaikan?’. Maka laki-laki itupun tertunduk karena haibah (keagungan Alloh) sambil berkata: ‘Tidak wahai Robb!’. Maka dikatakan: ‘Tidak demikian. Karena engkau masih memiliki kebaikan di sisi Kami, dan kamu tidak akan dizolimi!’. Maka dikeluarkan untuknya sebuah bitoqoh (kartu amal) yang di dalamnya ada kesaksian ‘Asyhadu an La Ilaha illalloh wa Asyhadu anna Muhammadar Rosululloh. Maka orang itu berkata: ‘Wahai Robbku, apakah artinya bitoqoh seperti ini?’. Maka dikatakan: ‘Kamu tidak akan dizolimi.’ Kemudian 99 lembar catatan-catatan diletakkan dalam satu timbangan dan bitoqoh dalam timbangan yang lain, maka bitoqoh itupun lebih berat.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

f. Tauhid merupakan sebab utama terhapusnya dosa-dosa

Dari Anas bin Malik , ia mendengar Rosululloh  bersabda bahwa Alloh  berfirman (dalam hadits Qudsi):

(( …يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً ))

“Wahai anak cucu Adam, seandainya engkau datang menemui-Ku dengan membawa kesalahan (dosa) sepenuh bumi namun dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun (tidak syirik kepada-Ku), niscaya Aku akan menemuimu dengan membawa magfiroh (ampunan) sepenuh bumi pula!” (HR. Tirmidzi)

Demikian agung dan pentingnya kedudukan tauhid dalam Islam dan demikian sangat berbahaya pelanggarannya, yaitu syirik. Bahkan seluruh ritual peribadatan dalam Islam adalah realisasi dari tauhid itu sendiri, dan tujuannya pun harus tauhid! Jika tidak demikian, maka sia-sialah seluruh peribadatan tersebut.

Untuk lebih menyelami keterkaitan hubungan antara tauhid dengan sirotulmustaqim, mari kita renungi bersama ayat-ayat berikut:

“Sesungguhnya Alloh adalah Robbku dan Robb kalian, maka sembahlah (ibadahilah) hanya Dia. Ini adalah sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. Maryam (19): 36]

“Dan hendaklah kalian menyembah-Ku (beribadah kepadaku saja). Inilah sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. Yasin (36): 61]

B. Ittiba’

1. Arti ittiba’.

Ittiba’ berarti pengikutan”. Ittiba’ yang dimaksud sebagai dasar agama Islam adalah pengikutan kepada Rosululloh dalam memahami Islam dan menerapkannya. Karena Rosululloh  sendiri hanya komitmen terhadap pengikutan kepada wahyu Ilahi, maka pada hakikatnya ittiba’ adalah mengikuti wahyu dari Alloh .

2. Ittiba’ pengawal kemurnian.

Tidak akan mungkin kita dapat menjaga kemurnian Islam kecuali dengan tetap konsisten (sangat tegas) kepada ittiba’. Meninggalkan ittiba’ secara keseluruhan, berarti keluar dari Islam. Sedangkan meninggalkan sebagian dasar ittiba’, berarti masuk ke dalam lingkaran bid’ah, bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

Pemahaman dan pelaksanaan tauhid sendiri harus dikawal ketat dengan ittiba’. Jika tidak, pasti melahirkan pemahaman dan pelaksanaan yang salah, yang bisa sampai kepada kesyirikan atau paling sedikit akan menyampaikan kepada bid’ah. Yang dimaksud dengan pengawalan ittiba’ adalah bahwa pemahaman dan pelaksanaan tauhid dan agama Islam secara keseluruhan, harus mengikuti jalan Rosululloh .

Mari kita simak contoh bahaya tidak adanya pengawalan tersebut yang terjadi pada awal zaman, yaitu sejak Nabi Adam  diturunkan ke bumi sampai sepuluh generasi setelahnya, dimana umat manusia hanya beribadah kepada Alloh  di atas tauhid. Di ujung zaman tersebut ada beberapa pemimpin dan pemuka agama yang nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan ke dalam hati pengikut dan pecinta mereka agar membuat patung-patung mereka dan patung-patung tersebut masing-masing diberi nama dengan nama-nama mereka. Lalu setiap patung ditempatkan di setiap tempat dimana masing-masing ulama tersebut memberikan pelajaran-pelajaran mereka, dengan alasan agar ketika melihat patung-patung tersebut, maka para pengikut mereka akan ingat kepada ajaran-ajaran mereka.

Setelah generasi para pembuat patung tersebut meninggal dunia, kemudian setan membisikkan kepada keturunan mereka bahwa sebenarnya bapak-bapak mereka berdoa dan meminta kepada patung-patung tersebut. Maka mulailah kaum Nuh  menyembah patung-patung dan mulailah kesyirikan pertama di dunia. Ketidakadaan pengawalan pada kejadian ini adalah terjadinya pembuatan patung-patung sebagai alat pengingat yang merupakan bid’ah, keluar dari sunnah para nabi dan terjadilah malapetaka tersebut.

Mari kita simak kedudukan ittiba’ dalam Islam melalui hal berikut:

a. Rosululloh  mengikuti wahyu dan tidak sekali-kali memasukkan ke dalam Islam suatu ajaran yang berasal dari produk diri beliau sendiri.

“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Rabb-mu kepadamu. Sesungguhnya Alloh adalah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [QS. al-Ahzab (33): 2]

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. an-Najm (53): 3-4]

“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sesuatu perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami hantam dia dengan tangan kanan. Kemu-dian Kami putuskan urat tali jantungnya.” [QS. al-Haqqoh (69): 44-46]

b. Rosululloh  mengikuti jalan para nabi sebelumnya

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muham-mad): ’Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif  dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Robb.” [QS. an-Nahl (16): 123]

c. Kita diperintahkan untuk ittiba’

Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (daripadanya).” [QS. al-A’rof (7): 3]

“Katakanlah: ’Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Robb (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Alloh dan Rosul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” [QS. al-A’rof (7): 158]

d. Ittiba’ adalah bukti kecintaan kepada Alloh  dan merupakan syarat mendapatkan kecintaan-Nya.

“Katakanlah: ’Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh akan men-cintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Ali ‘Imron (3): 31]

Untuk lebih menyelami keterkaitan hubungan antara ittiba’ dengan sirotulmustaqim, mari kita renungkan bersama ayat-ayat berikut:

“Sesungguhnya kamu (wahai Rosululloh) salah seorang dari rosul-rosul. (Yang berada) di atas sirôtulmustaqîm (jalan yang lurus).” [QS. Yasin (36): 3-4]

“Dan sesungguhnya (wahai Rosululloh) kamu benar-benar memberi petunjuk kepada sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. asy-Syuro (42): 52]

C.Sumber yang benar dalam hukum dan pemahaman

Salah satu rambu sirotulmustaqim yang sangat penting adalah menimba pemahaman Islam atau hidâyah dari sumber yang benar. Satu-satunya sumber yang mutlak benar dalam Islam adalah wahyu Alloh  yang berbentuk al-Qur’an dan al-Hadits (as-Sunnah), yang harus dirujukkan (disandarkan pemahamannya) kepada Alloh  dan Rosul-Nya .

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian bersengketa tentang sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” [QS. an-Nisa’ (4): 59]

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apa-bila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam  urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguh-lah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” [QS. al-Ahzab (33): 36]

Rosululloh  bersabda:

(( أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ اْلكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ ))

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan al-Kitab (al-Qur’an) dan wahyu yang semisal dengannya (yaitu al-hadits).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

(( تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ ))

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang tidak akan sesat kalian selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu: Kitabulloh (al-Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

D.Metode Pemahaman yang benar

Ahlus Sunnah berpegang teguh kepada pemahaman dan metode pemahaman para sahabat, karena mereka adalah umat yang telah mendapat “serfitikat kebenaran” dari Alloh  melalui banyak ayat-ayat al-Qur’an. Demikian pula jika mereka telah berijma’ terhadap suatu masalah, maka ijma’ mereka adalah hukum yang wajib diikuti dan tidak boleh memilih pilihan lain selain pilihan mereka.

Selain memberikan “serfitikat kebenaran” tersebut, Alloh  pun telah mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka. Untuk lebih jelasnya, marilah kita renungkan hal-hal berikut:

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami leluasakan dia di kesesatannya yang telah dijalani-nya itu, dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. an-Nisa’ (4): 115]

Kalian adalah umat yang terbaik yang dila-hirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh.” [QS. Ali ‘Imron (3): 110]

“Sesungguhnya Alloh telah rido terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh  mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” [QS. al-Fath (48): 18]

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam penentangan (kesesatan). Maka Alloh akan memelihara kalian dari mereka. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. al-Baqoroh (2): 137]

Rosululloh  bersabda:

(( لاَ يَجْمَعُ اللهُ هَذِهِ الأُمَّةَ عَلَى ضَلاَلَةِ ))

“Alloh tidak akan menghimpun umat ini dalam kesesatan!” (HR. Hakim)

Jadi sudah menjadi keharusan yang pasti yang didukung oleh dalil yang kuat dan logika yang sehat untuk mengikuti ”jejak dan pemahaman” orang-orang yang Alloh  telah menamakan mereka ”orang-orang mukmin” dan sebagai ”sebaik-baik umat” serta dipuji-Nya dalam banyak ayat-ayat al-Qur’an, juga mereka adalah orang-orang yang Alloh  sendiri telah menyatakan bahwa Dia telah rido terhadap mereka serta mengancam orang-orang yang mengikuti selain jalan mereka. Rido Alloh  senantiasa untuk mereka! Mereka telah membayar dengan darah mereka dan dengan semua apa yang mereka miliki untuk sampainya hidayah yang mulia ini ke dalam hati-hati kita.

Sumber:

BAB VIII RAMBU-RAMBU  SIROTULMUSTAQIM (PRINSIP-PRINSIP PALING  DASAR PADA AHLUS SUNNAH), buku  “Sirotulmustaqim” yang disusun Lajnah Ilmiyah HASMI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: