Tinggalkan komentar

Iman dari Segi Hati

Asal atau dasar iman ada di dalam hati. Kemudian akibat dari keberadaannya, maka lahirlah perkataan dan amal perbuatan iman yang zhāhir (tampak).

Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa dasar iman ada dalam hati di antaranya:

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menim-panya dan baginya adzab yang besar.” [QS. an-Nahl (16): 106]

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menen-tang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” [QS. al-Mujādilah (58): 22]

“Dan ketahuilah oleh kalian bahwa di kalangan kalian ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kalian dalam beberapa urusan, benar-benarlah kalian akan mendapat kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” [QS. al-Hujurāt (49): 7]

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakanlah (kepada mereka): Kalian belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian, dan jika kalian taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalan kalian; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. al-Hujurāt (49): 14]

Tanpa ada wujud iman dalam hati, maka tidak akan ada amal dan perkataan iman yang zhāhir. Demikian pula sebaliknya, tidak adanya amal dan perkataan iman yang zhāhir adalah menjadi dalīl (bukti) akan tidak adanya iman dalam hati.

Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– bersabda:

اَلاَ إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ لَهَا سَائِرُ الْجَسَدِ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ لَهَا سَائِرُ الْجَسَدِ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apa-bila dia baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Dan bila rusak, maka rusak-lah seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati. (HR. al-Bukhāriy: 52 dan Muslim: 1599)

Syaykhul Islam Ibnu Taymiyyah –Rahimahullah– berkata[1]:

فَإِذَا كَانَ الْقَلْبُ صَالِحًا بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلإِيْمَانِ عِلْمًا وَعَمَلاً قَلْبِيًّا، لَزِمَ ضَرُوْرَةً صَلاَحُ الْجَسَدِ بِالْقَوْلِ الظَّاهِرِ، وَالْعَمَلِ بِاْلإِيَمَانِ الْمُطْلَقِ

“Apabila hati adalah hati yang shaleh karena berisikan ilmu dan perbuatan hati, maka pastilah anggota badan pun akan shaleh, karena akan melahirkan perkataan zhahir dan amal yang dilandasi oleh asal iman…”

Imam al-Marwaziy –Rahimahullah– berkata[2]:

“Dalil bahwasanya hanya sebatas ilmu dan kepercayaan saja tidak akan berguna bagi pelakunya adalah firman Allah tentang perkataan Iblis:

“…Menjawab iblis: Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” [QS. al-A’rāf (7): 12]

“Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shaad (38): 82)

Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan bahwa Iblis mengetahui bahwa Allah-lah yang menciptakannya. Tetapi dia menolak untuk tunduk kepada perintah-Nya agar sujud kepada Adam –‘Alayhi as-Salāmu–, maka kepercayaan dan ilmunya tidak berguna baginya, karena tidak adanya ketundukan.

Dalil lainnya adalah persaksian Allah atas keadaan hati sebagian kaum Yahudi yang sesungguhnya mereka telah mengetahui kedatangan Nabi dan risalah yang dibawanya seperti mereka mengetahui keadaan anak-anak mereka sendiri, yaitu:

“…maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya….” [QS. al-Baqarah (2): 89]

“…mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” [QS. al-Baqarah (2): 146]

Di sini Allah menjelaskan bahwa sebagian Yahudi telah mengetahui kebenaran kenabian Rasulullah, tetapi hal ini tidak menjadikan mereka sebagai orang-orang beriman, karena pengetahuan mereka tidak direalisasikan dengan ketundukan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Sumber:

Lajnah Ilmiah Hasmi. “Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”. http://www.hasmi.org


[1] Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, al-Imān (Beirut: al-Maktab al-Islāmiy1402 H), 176.

[2] Imam Muhammad bin Nashr al-Marwaziy, Ta`dzīm Qadr ash-Shalāh (Madinah: Maktabah ad-Dār, 1406 H), 2/696-698.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: