Tinggalkan komentar

Iman dari Segi Zhahir

  • Perkataan lisan bagian dari iman.

Perkataan lisan seperti syahadah Lā Ilāha Iillallah-Muhammad Rasulullah, dzikir, amar ma`rūf nahi munkar dan lainnya adalah bagian dari iman. Di antara bentuk perkataan lisan ada yang sifatnya sebagai syarat wujud bagi keimanan, ada pula yang sifatnya wajib dan yang mustahab. Dua kalimat syahadat adalah syarat wujudnya iman, maka seseorang tidak dinamakan sebagai orang yang beriman tanpa mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut (kecuali bagi yang tidak sanggup).

Dalil-dalil dari al-Qur`an dan al-Hadits yang menunjukkan bahwa perkataan lisan termasuk bagian dari iman banyak sekali, tetapi yang paling tegas di antaranya adalah:

اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ

Iman memiliki lebih dari 70 atau 60 cabang. Cabangnya yang paling utama adalah ucapan Lā Ilāha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan dari jalan. Sedangkan malu bagian dari iman.” (HR. al-Bukhāriy No. 9 dan Muslim No. 57)

Sedangkan dalil bahwa dua kalimat syahadah adalah syarat dari wujudnya iman adalah sabda Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–:

أُمِرْتُ أَنْ أُقُاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَإِذَا قَالُوْهَا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَ

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, hingga mereka mengucapkan Lā Ilāha Illallah. Apabila mereka telah mengucapkannya, maka terpeliharalah dariku darah-darah dan harta-harta mereka, kecuali karena haknya.(HR. al-Bukhāriy No. 25 dan Muslim No. 22)

Syaykhul Islam Ibnu Taymiyyah –Rahimahullah– berkata[1]:

وَقَدِ اتَّفَقَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّهُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بِالشَّهَادَتَيْنِ فَهُوَ كَافِرٌ

“Dan kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia adalah orang kafir.”

Imam Ibnu Rajab –Rahimahullah– berkata[2]:

وَمَنْ تَرَكَ الشَّهَادَتَيْنِ خَرَجَ مِنَ اْلإِسْلاَمِ

“Dan barangsiapa meninggalkan dua kalimat syahadat, maka dia telah keluar dari Islam.”

Sudah pasti, dua kalimat syahadat yang diterima Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– adalah yang keluar atau berasal dari iman yang ada dalam hati seseorang. Sedangkan ucapan dua kalimat syahadat yang hanya keluar dari mulut begitu saja, maka tidak akan ada artinya di sisi Allah –Subhā-nahu wa Ta’ālā–, walaupun di sisi manusia yang mengucapkannya dianggap sebagai muslim seorang muslim. Dengan demikian, seseorang harus benar-benar memahami benar arti dari dua kalimat syahadat tersebut dan menerima segala konsekuensi yang terkandung pada keduanya.

  • ‘Amal (perbuatan) anggota badan bagian dari iman.

as-Salaf ash-shaleh ketika menetapkan bahwa perbuatan anggota badan adalah bagian dari iman, maka mereka mendasarkan ketetapan tersebut dari banyak dalil, di antaranya:

“…dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian….” [QS. al-Baqarah (2): 143]

Imam al-Hulaymiy –Rahimahullah– berkata[3]:

أَجْمَعَ الْمُفَسِّرُوْنَ عَلَى أَنَّهُ أَرَادَ صَلاَتَكُمْ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ، فَثَبَتَ أَنَّ الصَّلاَةَ إِيْمَانٌ، وَإِذَا ثَبَتَ ذَلِكَ، فَكُلُّ طَاعَةٍ إِيْمَانٌ إِذَ لَمْ أَعْلَمْ فَارِقًا فِي هَذِهِ التَّسْمِيَةِ بَيْنَ الصَّلاَةِ وَسَائِرِ الْعِبَادَاتِ

“Para ahli tafsir telah ijma` bahwa yang dimaksud dengan ungkapan īmānakum pada ayat tersebut adalah shalat kalian yang berkiblat ke arah Baitul Maqdis. Di sini terbukti bahwa shalat dinamakan dengan iman. Jika demikian halnya, maka semua amal ketaatan adalah iman, karena tidak ada bedanya antara shalat dengan amal ibadah lainnya dalam penamaannya (sebagai bagian iman).”

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnyalah mereka bertawakkal (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.[QS. al-Anfāl (8): 2-4]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” [QS. al-Hujurāt (49): 15]

Kata إِنَّمَا dalam ayat ini[4] menunjukkan bahwa amal perbuatan yang disebutkan dalam ayat adalah amal yang termasuk kewajiban iman yang ada pada diri seorang yang beriman. Sebaliknya, seseorang yang tidak mengerjakan amal ibadah yang menjadi kewajiban iman, maka dia adalah orang yang tidak memiliki iman[5].

Demikian pula sabda Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– kepada utusan dari kabilah ‘Abd al-Qays:

آمُرُكُمْ بِالإِيْمَانِ بِاللهِ وَحْدَهُ

“Aku memerintahkan kalian untuk beriman kepada Allah semata.”

Kemudian beliau melanjutkan:

هَلْ تَدْرُوْنَ مَا الإِيْمَانُ بِاللهِ وَحْدَهُ؟

“Apakah kalian mengetahui, apakah iman kepada Allah semata?”

Maka mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya”. Lalu beliau pun bersabda:

شَهَادَةُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَأَنْ تُعْطُوا مِنِ الْغَنَائِمِ الْخُمُسَ

“Yaitu bersyahadat bahwa tidak ada ilah Yang hak (diibadahi) kecuali Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, memberikan 1/5 bagian dari harta rampasan perang….” [HR. al-Bukhāriy dalam al-Fath 8/84 dan Muslim 1/48]

Hadits ini dengan tegas menunjukkan bahwa perkataan lisan dan perbuatan anggota badan adalah iman atau bagian dari iman. Sudah tentu perkataan dan perbuatan badan tersebut harus disertai iman yang ada dalam hati, karena apabila tidak, maka keadaan seperti ini tidaklah dapat disebut sebagai iman[6].

Hadits lainnya, Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– bersabda:

اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الإِيْمَانِ

Bersuci (kebersihan) adalah sebagian dari iman.(HR. Muslim 1/223)

لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia melakukan zina.” (HR. al-Bukhāriy 2475 dan Muslim 2/41)

Hadits-hadits ini pun menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan yang disebutkan dalam teks hadits adalah bagian dari iman. Dan masih banyak lagi dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa amal perbuatan anggota badan termasuk iman.

Sumber:

Lajnah Ilmiah Hasmi. “Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”. http://www.hasmi.org


[1] al-Īmān, hal. 287.

[2] Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Hikam, hal. 23.

[3] Imam al-Hulaymiy, al-Minhāj fi Syu’ab al-Īmān (Beirut: Dār al-Fikr, 1399 H), 1/37. Lihat pula: Imam Ibnu Mundah, al-Īmān (Madinah: al-Jāmi’ah al-Islāmiyyah, 1401 H), 1/329 dan Imam al-Bayhaqiy, Syu’ab al-Īmān (Beirut: Dār al-Kutub, 1410 H), 1/121.

[4] Lihat pula: QS. al-Anfāl (8): 1-4 dan an-Nūr (24): 62.

[5] Lihat: al-Īmān oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, hal. 14.

[6] Lihat: Imam Ibnu Abī al-‘Izz al-Hanafiy, Syarh al-‘Aqīdah ath-Thahāwiyyah (Beirut: al-Maktab al-Islamiy, 1391 H), hal. 389.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: