1 Komentar

Iman Bercabang Dan Kufur Pun Bercabang Pula

Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– bersabda:

اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ.

Iman memiliki lebih dari 70 atau 60 cabang. Cabangnya yang paling utama adalah ucapan Lā Ilāha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan halangan dari jalan. Sedangkan malu bagian dari iman.(HR. al-Bukhāriy No. 9 dan Muslim No. 57)

Ketika menjelaskan hadits di atas, Imam al-Khaththābiy –Rahimahullah– berkata[1]:

“Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa iman syar’i adalah suatu istilah yang memiliki cabang-cabang dan bagian-bagiannya, ada yang lebih rendah dan ada pula yang lebih tinggi. Suatu istilah harus memiliki keterikatan hubungan dengan sebagiannya, sebagaimana dengan keseluruhannya. Maka, hakekat sesuatu mengharuskan adanya semua cabang dan bagian-bagiannya tersebut. Seperti shalat, maka ia pun memiliki cabang-cabang dan bagian-bagiannya. Karena istilah (shalat) memang harus memiliki keterikatan hubungan dengan sebagiannya, sebagaimana dengan keseluruhannya. Maka, hakekat (shalat) mengharuskan adanya semua cabang dan bagian-bagiannya tersebut.”

Imam Ibnu al-Qayyim –Rahimahullah– berkata[2]:

“Iman adalah suatu pokok yang memiliki banyak cabang. Setiap cabang dinamakan iman. Shalat misalnya, ia adalah iman, demikian pula zakat dan puasa. Perbuatan-perbuatan batin, seperti malu dan tawakkal pun dinamakan iman. Di antara cabang-cabang iman tersebut, ada bagian yang apabila hilang (tidak ada), maka hilanglah iman secara keseluruhan, seperti dua kalimat syahadat. Ada juga cabang yang apabila hilang, maka kehilangannya tidak mengakibatkan hilangnya iman secara keseluruhan, seperti “keengganan” untuk menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Di antara dua cabang tersebut (syahadat dan menyingkirkan gangguan), masih ada juga cabang-cabang lainnya yang berbeda-beda derajatnya. Sebagiannya ada yang lebih dekat ke cabang tertinggi, namun sebagian lainnya justru lebih dekat ke cabang terendah. Demikian pula halnya dengan kekufuran, maka kekufuranpun memilki pokok dan cabang-cabang. Seperti halnya cabang iman yang dinamakan sebagai iman, maka cabang kufur pun juga dinamakan dengan kekufuran. Malu adalah salah satu cabang iman, maka tidak tahu malu adalah cabang kekufuran. Jujur adalah cabang iman, maka dusta adalah cabang kekufuran…. Maka seluruh perbuatan maksiat termasuk cabang-cabang kekufuran, seperti halnya seluruh bentuk ketaatan adalah termasuk cabang iman.”

Sumber:

Lajnah Ilmiah Hasmi. “Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”. http://www.hasmi.org


[1] Imam al-Khaththābiy, Ma`ālim as-Sunan Hāsyiyah Sunan Abī Dāwud (Himsh, 1388 H), 5/56.

[2] ash-Shalāh wa Hukm Tārikihā, hal. 53. Lihat pula: Syarh ath-Thahāwiyyah, hal. 382.

One comment on “Iman Bercabang Dan Kufur Pun Bercabang Pula

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: