Tinggalkan komentar

Kufur Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Seperti halnya iman, dalam manhaj ahlus sunnah kufur pun terbagi atas dua aspek, yaitu aspek bāthin dan aspek zhāhir. Dan apabila dua bagian dari aspek bāthin[1] kita gabungkan, maka kesatuan tersebut dapat kita namakan sisi i’tiqādiy (aqidah atau keyakinan).

Dengan demikian, kufur terbagi atas tiga macam, yaitu:

  1. Kufur I’tiqādiy (keyakinan).
  2. Kufur Qawliy (lisan).
  3. Kufur ‘Amaliy (anggota badan).

Catatan: semua lafazh kufur tersebut adalah kufur akbar.

Apabila salah satu perbuatan kufur tersebut terjadi, maka kafirlah pelakunya, terlepas apakah telah terjadi kekafiran pada dua bagian lain-nya ataukah tidak.

Sebagai contoh: apabila terjadi kufur i’tiqādiy pada seseorang, seperti membenci Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– dan Rasul-Nya –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–, maka kafirlah orang tersebut walaupun dia mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengerjakan perintah-perintah syar’i.

Apabila tidak terjadi kekufuran dalam i’tiqādiy-nya, kemudian tanpa ikrāh (paksaan) seseorang yang telah bersyahadat berkata bahwa Isa adalah anak AllahSubhānahu wa Ta’ālā, walaupun dia menyatakan bahwa apa yang diucapkannya tidak diyakini hatinya dan walaupun dia melaksanakan perintah-perintah syar’i, maka orang tersebut telah kafir.

Demikian juga bila seseorang yang telah bersyahadat mengatakan bahwa dia beriman kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā– dan Rasul-Nya, tetapi dia meninggalkan semua perintah syar’i’, atau mengerjakan perbuatan kufur akbar (tanpa paksaan), maka ia telah keluar dari Islam.

Perlu diketahui bahwa pembagian kufur menjadi dua bagian, yaitu kufur i’tiqādiy yang mengeluarkan seseorang dari Islam, dan kufur ‘amaliy yang tidak mengeluarkan dari Islam, adalah pembagian yang kurang tepat, kecuali dengan disertai penjelasan bahwa kufur ‘amaliy terbagi dua, yaitu kufur ‘amaliy akbar yang mengeluarkan seseorang dari Islam dan kufur ‘amaliy ashghar yang tidak mengeluarkan dari Islam.

Imam Ishāq bin Rāhawayh –Rahimahullah– berkata[2]:

( قَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ أَنَّ مَنْ سَبَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ سَبَّ رَسُوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ دَفَعَ شَيْئًا أَنْزَلَهُ اللهُ، أَوْ قَتَلَ نَبِيًّا مِنَ أَنْبِيَاءِ اللهِ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ مُقِرٌّ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ أَنَّهُ كَافِرٌ )

“Kaum muslimin telah ijmā’ bahwa orang yang mencaci Allah dan Rasul-Nya, atau menolak sesuatu yang diwahyukan Allah, atau membunuh seorang nabi, maka ia telah kafir, walaupun dia mengakui wahyu yang diturunkan Allah.”

Perkataan ini menunjukkan kufurnya orang yang mengerjakan amalan kufur, walaupun hatinya mempercayai. Dan sekaligus mengungkap k-salahan Murji’ah yang beranggapan bahwa kekufuran orang yang mencaci Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– hanya apabila ada istihlāl (penghalalan dalam hati).

Imam Muhammad bin Sahnūn –Rahimahullah– berkata[3]:

( أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ أَنَّ شَاتِمَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُنْتَقِصَ لَهُ كَافِرٌ، وَالْوَعِيْدُ جَارٌ عَلَيْهِ بِعَذَابِ اللهُ، وَحُكْمُهُ عِنْدَ اْلأُمَّةِ الْقَتْلُ، وَمَنْ شَكَّ فِي كُفْرِهِ وَعَذَابِهِ كُفْرٌ )

“Para ulama telah ijmā’ bahwa orang yang mencaci Rasulullah dan menjelek-jelekkannya adalah kafir. Ancaman siksa Allah pun berlaku atasnya dan hukumannya dalam pandangan ummat adalah dibunuh. Barangsiapa yang ragu tentang kekafiran orang tersebut dan siksaan atasnya, maka orang itupun kafir.”

Syaykhul Islam Ibnu Taimiyyah –Rahimahullah– berkata[4]:

( إِنَّ سَبَّ اللهِ أَوْ سَبَّ رَسُوْلِهِ كُفْرٌ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، سَوَاءً كَانَ السَّابُّ يَعْتَقِدُ أَنَّ ذَلِكَ مُحَرَّمٌ، أَوْ كَانَ مُسْتَحِلاًّ لَهُ، أَوْ كَانَ ذَاهِلاً عَنِ اعْتِقَادِهِ، هَذَا مَذْهَبُ الْفُقَهَاءِ وَسَائِرِ أَهْلِ السُّنَّةِ الْقَائِلِيْنَ بِأَنَّ اْلإِيْمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ )

“Mencaci Allah dan Rasul-Nya merupakan kekufuran, zhahir maupun bathin. Baik sang pencaci menganggap hal tersebut haram, atau dia menghalalkannya, atau lupa terhadap aqidahnya. Ini adalah madzhab semua ahli fiqh dan semua Ahlus Sunnah yang menetapkan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan.”

Oleh karena itu, mencaci maki terhadap Allah dan Rasul-Nya adalah suatu kekufuran, baik pencacinya menghalalkan atau tidak. Adapun orang-orang yang menyatakan kekufurannya adalah karena penghalalannya, bukan karena perbuatan cacian atau perkataannya tersebut, maka mereka telah melandasi pahamnya berdasarkan manhaj Murji’ah, yang menganggap kekufuran hanyalah kufur hati. Demikian pula halnya dengan amal perbuatan mukaffirah lainnya. Adapun Ahlus Sunnah, tidaklah demikian.

Simaklah perkataan Syaykhul Islam Ibnu Taymiyyah –Rahimahullah– berikut[5]:

“Wajib diketahui bahwa pendapat yang menyatakan bahwa kekafiran pencaci disebabkan oleh penghalalannya atas cacian tersebut adalah suatu kemungkaran dan kesalahan yang besar. Sesungguhnya orang yang tersesat dalam kesalahan seperti ini telah terpengaruh oleh perkataan golongan mutakalimin generasi terakhir yaitu Jahmiyyah betina (maksudnya Asy’ariyyah) yang telah mengikuti madzhab Jahmiyyah generasi pertama, yang berpendapat bahwa iman adalah hanyalah kepercayaan di hati, walaupun tidak disertai dengan perkataan lisan serta perbuatan hati dan perbuatan anggota badan.”

Dari perkataan-perkataan para ulama tersebut di atas, kita dapati:

  1. Kekufuran tidak hanya terjadi di hati saja.
  2. Kekufuran dapat terjadi pada perkataan dan perbuatan.
  3. Kekufuran tidak perlu harus ada penghalalan atas suatu perbuatan mukaffirah.
  4. Yang menyelisihi hal tersebut adalah murji’ah.

Untuk menambah jelasnya keterangan di atas, renungkanlah ayat-ayat berikut:

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?”. Tidak usah kalian minta maaf, karena kalian telah kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan dari kalian (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [QS. at-Tawbah ( 9): 66]

Syaykhul Islam Ibnu Taymiyyah –Rahimahullah– berkata[6]:

“Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa mereka telah kufur setelah beriman, walaupun mereka menyatakan bahwa kekufuran tersebut tidak diyakini oleh hati mereka, yaitu hanya bersenda-gurau dan bermain-main. Tetapi Allah menjelaskan bahwa perbuatan mempero-lok-olok mereka adalah kufur.”

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” [QS. al-Baqarah (2): 34]

Ayat di atas menjelaskan kekufuran iblis, walaupun di hatinya masih memiliki kepercayaan terhadap keesaan Allah –Subhānahu wa Ta’ālā–, rububiyyah dan juga uluhiyyah-Nya. Tetapi karena Iblis tidak mau tunduk untuk melaksanakan perintah sujud dikarenakan kesombongan dan keengganannya, maka iapun menjadi kafir.

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu adalah al-Masih putera Maryam. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya. Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia mencip-takan apa yang dikendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS. al-An’ām (5): 17]

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam, padahal al-Masih (sendiri) berkata: Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Ilah (yang kelak berhak disembah) selain Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” [QS. al-An’ām (5): 72-73]

Maka, siapa saja yang berkata seperti itu adalah kafir, walaupun hanya bercanda dan dia hatinya masih mempercayai bahwa Allah –Subhānahu wa Ta’ālā–adalah Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya.


[1] Yaitu bagian qawl (perkataan) hati dan ‘amal (perbuatan) hati.

[2] Imam Ibnu ‘Abd al-Barr, at-Tamhīd (Maghrib: cet ke-1), 4/226. Lihat pula: Syaykhul Islam Ibnu Taymiyyah, ash-Shārim al-Maslūl (Beirut: ‘Ālam al-Kutub), hal. 5 & 451.

[3] al-Qādhī ‘Iyādh, asy-Syifā’ (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabiy), 2/933.

[4] ash-Shārim al-Maslūl, hal. 451

[5] ash-Shārim al-Maslūl, 324.

[6] Majmū’ al-Fatāwā, 7/220 & 283.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: