Tinggalkan komentar

Manhaj Ahlus Sunnah Mengenai Nash Wa’d (Janji) dan Wa’id (Ancaman)

Untuk menetapkan suatu hukum, khususnya yang berhubungan dengan masalah aqidah, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah menghimpun semua nash, baik nash wa’d (janji) maupun nash wa’īd (ancaman), yaitu dengan menerima keduanya dan kemudian menyerasikan atau mengkompromikan di antara keduanya.

Sedangkan ahlul bid’ah pada umumnya serta Wa’idiyyah dan Murji’ah pada khususnya, mereka hanya mengambil salah satu dari kedua nash tersebut, dan dengan meninggalkan yang lainnya.

Sebagai contoh, ketika ada hadits yang mengancam (nash wa’īd) seorang muslim yang mengerjakan dosa tertentu bahwa dia akan masuk neraka, serta ada hadits lain yang menjanjikan syurga (nash wa’d) bagi orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan bahkan ada pula ayat yang menjelaskan bahwa Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– akan mengampuni semua dosa selain syirik (kufur) bagi yang dikehendaki-Nya, maka berdasarkan nash-nash tersebut, Ahlus Sunnah menetapkan bahwa apabila seorang muslim mengerjakan dosa yag disebutkan oleh nash wa’īd tersebut, tanpa syirik, maka di akhirat nanti dia akan mendapatkan salah satu di antara dua posisi, yaitu masuk syurga tanpa diadzab di neraka terlebih dahulu, karena Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– mengampuninya, atau dia akan masuk syurga setelah terlebih dahulu masuk ke neraka, karena Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– tidak mengampuninya. Dengan demikian, nash-nash tersebut, baik nash wa’īd maupun nash wa’d, semuanya terpakai dan selaras sejalan.

Adapun golongan Wa’idiyyah, mereka akan menetapkan bahwa orang tersebut kekal di neraka, berdasarkan nash wa’īd, sedangkan Murji’ah, mereka akan memastikan keselamatan dari neraka bagi orang tersebut. Berdasarkan nash wa’d, walaupun dalam nash wa’d dijanjikan syurga kepadanya, tetapi baginya tidak dijanjikan keselamatan dari neraka sebelum masuk syurga, atau walaupun dalam nash lain ada janji seperti itu, namun janji tersebut tidak mutlak karena tersisipi oleh nash wa’īd.

 

NASH-NASH WA’D YANG MENJADI SYUBHAT BAGI WA’IDIYYAH

Nash-nash tersebut dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:

  • Nash-nash yang menyangkal adanya iman pada pelaku kabā’ir, seperti hadits-hadit berikut:

لاَ يَزْنِى الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah beriman seorang pezina ketika berzina.”

لاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah beriman seorang pencuri ketika mencuri.”

وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah beriman seorang peminum khamr ketika minum khamr.”

Hadits-hadits tersebut sama sekali tidak dapat diartikan bahwa pelaku dosa-dosa besar tersebut telah menjadi kafir. Karena dalil-dalil yang menjelaskan tentang tidak kafirnya mereka sangatlah kuat (dan banyak). Jadi bagaimanakah kita memahaminya?

Dalam bahasa ‘Arab, sudah terkenal sekali digunakannya gaya bahasa yang menyangkal keberadaan sesuatu, dengan maksud menyangkal kesempurnaannya. Seperti ungkapan peribahasa:

–  لاَ مَالَ إِلاَّ إِبِلُTidak ada harta selain unta”. Artinya bahwa harta terbaik adalah unta, bukan tidak ada lagi sesuatu yang dinamakan harta selain unta.

–  لاَ عِلْمَ إِلاَّ مَا نَفَعَTidak ada ilmu selain yang bermanfaat”. Artinya bahwa sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat, bukan berarti tidak ada lagi ilmu.

Kemudian timbul pertanyaan berikutnya, iman manakah yang disang-kal Rasulullah dalam hadits-hadits tersebut?

Apakah iman yang sempurna ataukah ashl al-īmān?

Apabila ditafsirkan dengan ashl al-īmān, berarti pelakunya telah menjadi kafir oleh perbuatan dosa tersebut. Padahal dalil yang berlawanan dengan penafsiran seperti ini sangat banyak sekali.

Oleh karena itu, penafsiran yang benar, bahwa yang disangkal oleh Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– ialah iman yang sempurna (kesempurnaan iman), dan penafsiran inipun sesuai dengan gaya bahasa ‘Arab tersebut di atas. Penafsiran seperti inilah yang digunakan oleh as-Salaf ash Shaleh dalam memahami hadits-hadits semacam ini yang pada zhahirnya “seakan-akan” berbenturan dengan dalil-dalil lain yang muhkam (terang dan jelas maksudnya).

Imam Ibnu ‘Abd al-Barr –Rahimahullah– berkata[1]:

“Yang disangkal oleh Rasulullah adalah kesempurnaan iman, bukan iman seluruhnya, dengan dalil bahwa yang sudah menjadi ijmā’ bahwa pencuri, pezina dan peminum khamr masih boleh mewarisi kaum kerabatnya yang beriman, selama pelaku dosa-dosa tersebut masih shalat dan masih mau menerima dakwah Islam. Sedangkan orang kafir, sudah menjadi ijmā’ pula bahwa mereka tidak dapat mewarisi seorang muslim. Hal ini merupakan dalil yang sangat terang bagi kita bahwa pelaku kabā’ir adalah orang yang beriman yang kurang imannya, dikarenakan perbuatan-perbuatannya tersebut.”

Imam an-Nawawiy –Rahimahullah– berkata[2]:

“Pemahaman yang benar (terhadap hadits) adalah apa yang dikemukakan oleh ahli tahqīq (peneliti), maknanya bahwa perbuatan maksiat tersebut tidak dikerjakan oleh orang-orang yang sempurna imannya. Ungkapan tersebut adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyangkal kesempurnaan” sesuatu dengan cara menyangkal “keberadaan”-nya seperti dikatakan: “Tidak ada ilmu kecuali yang berguna” atau “Tiada harta kecuali unta” dan “Tiada kehidupan kecuali kehidupan di akhirat”….”

Imam al-Marwaziy –Rahimahullah– berkata[3]:

“Makna yang benar menurut kami, bahwa siapa yang mengerjakan dosa-dosa tersebut, maka ia adalah orang yang tidak memiliki iman yang sempurna, karena dia telah meninggalkan sebagian iman. Disangkalnya keberadaan iman tiada lain adalah untuk menyangkal kesempurnaan imannya….Pelaksanaan hudūd terhadap pelakunya merupakan bukti bahwa iman masih ada dalam dirinya dan dia pun masih disebut mukmin. Kalau tidak begitu, maka seharusnya dia disuruh taubat, atau dibunuh apabila tidak mau bertaubat, tanpa dilaksanakan hudūd.”

Dan masih banyak lagi perkataan as-salaf ash-shaleh yang sama isinya dengan perkatan tersebut di atas.

  • Nash-nash yang berisi barā’ah (sikap berlepas diri) dari Rasulullah, seperti:

مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاَحَ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang mengangkat senjata melawan kami, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim 2/108)

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang menipu, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim 2/109)

Dalam hadits dijelaskan bahwa orang yang dianggap menipu tersebut adalah seorang penjual kurma. Orang tersebut tidak dikafirkan oleh Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–, dan tidak pula dihukum mati seperti yang diberlakukan kepada orang murtad.

Imam Abū ‘Ubayd –Rahimahullah– berkata[4]:

“Kami tidak memandang bahwa hadits-hadits tersebut berisi sikap berlepas diri dari Rasulullah ataupun dari agamanya, tetapi menurut pemahaman kami bahwa hadits-hadits tersebut menjelaskan bahwa orang yang disebutkan tidak termasuk orang-orang yang taat kepada kami, serta tidak mengikuti kami dan tidak pula menjaga syar’iat Islam.”

  • Nash-nash yang berisi penyebutan beberapa maksiat sebagai perbuatan kufur, di antaranya hadits-hadits berikut:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci-maki seorang muslim adalah suatu kefasikan dan memeranginya adalah sebuah tindak kekufuran.” (HR. al-Bukhāriy 1/112 dan Muslim 2/54)

Pencacian terhadap seorang muslim pernah terjadi pada zaman Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–, tetapi beliau tidak mengkafirkannya, malah beliau memberi peringatan kepada shahabat tersebut bahwa dia adalah orang yang masih memiliki sifat jahiliyyah. Demikian pula dengan orang yang “memerangi” seorang muslim, diapun adalah orang yang masih ditetapkan memiliki iman, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat al-Qur’an.

  • Nash-nash yang menyatakan tidak masuknya pelaku kabā’ir ke dalam syurga atau kekalnya dia di neraka, di antaranya:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya….” [QS. an-Nisā’ (4): 93]

Tentang tafsir ayat di atas, Imam ath-Thabariy –Rahimahullah–berkata[5]:

“Penafsiran yang paling tepat adalah bahwa balasan bagi seorang (muslim) yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja memang dikekalkan di dalam neraka, tetapi kemudian Allah memaafkan dan memuliakan orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, akhirnya Dia pun tidak mengekalkan mereka di Jahannam. Kemungkinannya, Allah mengampuninya sehingga mereka tidak masuk Jahannam sama sekali, atau Allah lebih dahulu menghukumnya di Jahannam kemudian dengan rahmat-Nya Dia mengeluarkannya. Yang demikian terjadi karena Allah telah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menerima taubat mereka, sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya….” [QS. az-Zumar (39): 53]

Maka, apabila kita mengikuti manhaj Ahlus Sunnah yang menghimpun atau mengumpulkan semua dalil, baik nash wa’d maupun wa’īd, maka hukum orang yang membunuh adalah tidak kekal di neraka serta status-nya pun tetap sebagai orang yang beriman dan tidak kafir, akan tetapi imannya berkurang karena dosa membunuh tersebut.

Harus pula diingat, bahwa walaupun dalam hadits Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– syirik termasuk kabā’ir, tetapi syirik tidak termasuk dalam jenis kabā’ir yang pelakunya tidak keluar dari Islam. Demikian pula halnya dengan sepuluh pembatal-pembatal keIslam-an yang sudah menjadi ijmā’.

 


[1] at-Tamhīd, 9/243-244.

[2] Syarh Shahīh Muslim, 2/41.

[3] Ta’zhīm Qadr ash-Shalāh, 2/576.

[4] Imam Abū ‘Ubayd, al-Īmān (Kuwait: Dār al-Arqam), hal. 92-93.

[5] Tafsīr ath-Thabariy, 9/69.

 

Sumber:

Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” yang disusun oleh Lajnah Ilmiah Hasmi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: