Tinggalkan komentar

Hukum Pelaku Dosa Besar Yang Tidak Mukaffirah

Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah ijma’ (sepakat) bahwa para pelaku dosa besar tidak menjadi kafir dikarenakan perbuatannya, kecuali apabila ia menghalalkan perbuatan tersebut. Atau di samping mengerjakan dosa-dosa besar, dia juga mengerjakan salah satu dari pembatal iman (Islam). Menurut Ahlus Sunnah, pelaku dosa-dosa besar tetap menyandang predikat sebagai seorang mukmin, dan di waktu yang sama diapun dinamakan sebagai orang fasik. Karena dosa-dosa besar tersebut akan mengurangi imannya, dan menjadikannya berada di bawah ancaman adzab akhirat.

Pandangan Ahlus Sunnah atas hukum tidak kafirnya para pelaku dosa besar adalah berdasarkan beberapa kumpulan dalil, yang masing-masing dilandasi dalil-dalil dari al-Qur’an dan As-Sunnah.

Berikut beberapa kumpulan dari dalil-dalil tersebut, yaitu:

  • Kumpulan dalil yang menunjukkan bahwa orang yang mati tanpa berbuat syirik ketika hidupnya, maka akan memasuki syurga, dan bahwa orang-orang yang bersaksi dengan Lā Ilāha Illallah juga akan masuk syurga:

Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya….” [QS. an-Nisā’ (4): 48]

Imam al-Marwaziy –Rahimahullah– berkata[1]:

“Yang dimaksud bahwa syirik tidak diampuni adalah apabila sang pelaku tidak bertaubat sebelum matinya, karena Allah berfirman:

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Alloh akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu….” [QS. al-Anfāl (8): 38]

Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa seorang musyrik apabila bertaubat, maka diampuni kesyirikannya. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa syirik yang dikabarkan Allah tidak akan diampuni adalah dosa syirik yang pelakunya tidak bertaubat sebelum mati. Sedangkan pelaku syirik yang bertaubat, pasti akan diampuni dosa syiriknya. Ayat-ayat tersebut pun mengabarkan bahwa Allah mengampuni pelaku dosa-dosa selain syirik yang tidak bertaubat semasa hidupnya. Karena apabila yang dimaksud adalah bahwa Allah mengampuni pelaku dosa-dosa selain syirik yang bertaubat (bukan yang tidak bertaubat), maka hukuman bagi pelaku dosa syirik atau dosa selain syirik menjadi sama saja. Dengan demikian, maka tidak akan ada artinya membedakan dua kalimat tersebut. Memisahkan dua kalimat tersebut membuktikan bahwa yang tidak diampuni oleh Allah adalah pelaku dosa syirik yang tidak bertaubat semasa hidupnya, sedangkan pelaku dosa selain syirik yang tidak bertaubat semasa hidupnya, maka ada di bawah kehendak Allah. Allah tidak akan mengampuni seseorang dan memasukkannya ke dalam syurga kecuali kepada seorang mukmin.”

Yang dimaksud oleh Imam al-Marwaziy –Rahimahullah– di sini adalah bahwa para pelaku dosa selain syirik (termasuk dosa-dosa besar) telah terbukti dapat diampuni, yang berarti bahwa mereka bukanlah orang-orang yang telah kafir karena dosa-dosa tersebut.

Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama–:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنِّي رَسُوْلُ اللهِ لاَ يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيْهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilāh kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Apabila seorang hamba berjumpa Allah dengan membawa dua kalimat tersebut dengan tanpa keraguan, maka ia masuk syurga.” (HR. Muslim 1/224)

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Hak Allah terhadap hamba adalah agar mereka harus beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah bahwa Dia tidak akan mengadzab siapapun yang tidak menye-kutukan-Nya.” (HR. al-Bukhariy 10/397 dan Muslim 1/58-59 No. 30)

Dalam hadits Qudsiy, Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– berfirman:

مَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطِيْئَةً لاَ يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيْتُهُ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Barangsiapa yang menemui-Ku dengan membawa kesalahan seluas bumi, selama tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Ku, maka Aku akan menemuinya dengan membawa ampunan seluas bumi pula.” (HR. Muslim No. 2687)

Imam Ibnu Rajab –Rahimahullah– berkata[2]:

“Barangsiapa yang datang pada hari kiamat dengan bertauhid dengan membawa kesalahan atau dosa seluas bumi, maka Allah akan menyambutnya dengan membawa ampunan sebesar kesalahannya. Tetapi hal ini pun tergantung kehendak Allah. Apabila Dia menghendaki, maka orang tersebut akan diampuni-Nya dia, bila tidak, maka dia akan dihukum karena dosa-dosanya. Walaupun pada akhirnya orang tersebut tidak akan kekal di dalam neraka, bahkan akan keluar darinya dan kemudian masuk syurga.”

  • Kumpulan dalil yang menunjukkan bahwa seorang muwahhid tidak akan masuk neraka, atau kekal di dalamnya (seandainya masuk) walaupun mengerjakan dosa-dosa besar:

Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– bersabda:

قَالَ لِي جِبْرِيلُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِكَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ لَمْ يَدْخُلِ النَّارَ، قُلْتُ: وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ؟، قَالَ: وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ

“Jibril datang menemuiku dengan memberi kabar gembira bahwa barang-siapa yang mati dari ummatku dengan tidak berbuat syirik, maka dia akan masuk syurga. Aku bertanya: Walaupun dia berzina dan mencuri? Jibril pun menjawab: Ya, walaupun dia berzina dan mencuri!” (HR. Muslim 2/93-94)

Perlu diingat, bahwa hadits tersebut dan hadits-hadits lain semisalnya, tidak menyangkal masuknya para pelaku dosa-dosa besar ke neraka, sebelum masuk syurga. Tetapi hadits ini jelas sekali menegaskan bahwa orang seperti itu akan masuk syurga, yang berarti bahwa orang itu tidaklah kafir karena dosa-dosa besar tersebut.

Oleh karena itu, maka Ahlus Sunnah ada di tengah antara Khawarij yang mengkafirkan para pelaku dosa-dosa besar, dan Murji’ah yang menganggap dosa-dosa besar tersebut tidak berbahaya bagi pelakunya, selama dia beriman.

Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– bersabda:

بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلاَ تَسْرِقُوا وَلاَ تَزْنُوا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ وَلاَ تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلاَ تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ

“Berbai’atlah kepadaku bahwa kalian tidak akan berbuat syirik, berzina, mencuri, membunuh anak-anak kalian, berdusta yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian (menuduh berzina) dan durhaka kepadaku dalam hal yang ma’ruf. Barangsiapa yang melaksanakan bai’at ini, maka Allah-lah yang akan mengganjarnya. Dan barangsiapa yang melanggarnya kemudian dihukum di dunia, maka hukuman tersebut menjadi penghapus dosanya. Dan barangsiapa yang melanggarnya tetapi Allah menutupinya, maka urusannya di akhirat terserah kepada Allah. Apabila dikehendaki Allah untuk diampuni, maka diapun akan diampuni-Nya, dan apabila dikehendaki untuk disiksa, diapun akan disiksa-Nya” (HR. al-Bu-khāriy 1/64 dan Muslim 11/223)

Imam an-Nawawiy –Rahimahullah– berkata[3]:

اَلْمُرَادُ بِهِ مَا سِوَى الشِّرْكِ، وَإِلاَّ فَالشِّرْكُ لاَ يَغْفِرُ لَهُ

“Pelanggaran yang dimaksud adalah pelanggaran yang bukan syirik, karena bila yang dimaksud adalah syirik, maka tidak ada ampunannya.”

  • Kumpulan dalil yang menunjukkan tetapnya iman dan persaudaraan dalam iman bagi para pelaku dosa besar

Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– berfirman:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian dan bertaqwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat.” [QS. al-Hujurāt (49): 9-10]

Dalam ayat tersebut dikemukakan bahwa mereka yang saling membunuh masih dianggap sebagai mukminin dan masih disebut sebagai orang yang bersaudara.

Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya….[QS. al-Baqarah (2): 178]

Imam Ibnu al-Jauwziy –Rahimahullah– berkata[4]:

دَلَّ قَوْلُهُ تَعَالَى (مِنْ أَخِيْهِ) عَلَى أَنَّ الْقَاتِلَ لَمْ يَخْرُجْ مِنَ اْلإِسْلاَم

“Firman Allah “dari saudaranya” menunjukkan bahwa pembunuh tidak keluar dari Islam.”

  • Kumpulan dalil yang mengharuskan dilaksanakannya hudūd (hukuman dunia bagi pelaku dosa).

Hudūd dilaksanakan adalah untuk dijadikan sebagai penghapus dosa. Apabila pelaku dosa besar adalah orang kafir, maka dosanya tidak dapat dihapus dengan hudūd. Contoh; hukum potong tangan bagi pencuri, setelah pencuri dipotong tangannya, maka ia pun akan bersih dari dosa mencurinya.


[1] Ta’zhīm Qadr ash-Shalāh, 2/617. Lihat pula: al-Īmān al-Awsath, hal. 36-37.

 

[2] Imam Ibnu Rajab al-Hanbaliy, Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam hal. 374

[3] Syarh Shahīh Muslim, jilid 2 hal. 223

[4] Imam Ibnu al-Jawziy, Zād al-Masīr fī ‘Ilm at-Tafsīr (Beirut: al-Maktab al-Islāmiy, 1402 H), 1/180

 

Sumber:

Iman Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” yang disusun oleh Lajnah Ilmiah Hasmi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: