Tinggalkan komentar

Beberapa Sebab Utama Terhalangnya Jama’iyyah Atau Amal Jama’i Renungan Untuk Kaum Muda Dakwah

Di antara sebab-sebab utama terhalangnya jama’iyyah atau amal jama’i ada-lah:

  • 1. Cinta kepemimpinan.
  • 2. Su’uzhzhan antar tokoh dakwah.
  • 3. Tujuan dakwah yang tidak syamil (sempurna lagi menyeluruh), dan
  • 4. Syubhat

Sebab yang keempat ini kita sebut sebagai syubhat, karena kita tidak dapati kata-kata lain yang lebih dekat kepada hal-hal yang akan kita paparkan berikut ini:

a) Menjauhi amal jama’i karena “mengira” bahwa arti dari “hizbiyyah“ yang banyak dikecam para ulama adalah amal jama’i. Perkiraan seperti ini tidak bisa ditafsirkan selain syubhat atau keja-hilan. Arti hizbiyyah yang dicela para ulama adalah pemihakan pada suatu pihak bukan karena kebenaran pihak tersebut, tetapi karena dorongan-do-rongan hawa nafsu dan kecondongan jiwa manusiawi. Jadi jelas sekali amal jama’i bukanlah hizbiyyah, karena amal jama’i adalah bentuk dari suatu amal sedang hizbyiyah adalah suatu sikap.

b) Sekelompok pemuda dan da’i meng-erti arti dari hizbiyyah yang sebenarnya, tetapi mereka beranggapan bahwa hiz-biyyah adalah suatu hal yang pasti ter-jadi dalam amal jama’i, oleh karena itu mereka menjauhi amal jama’i dengan harapan agar selamat dari hizbiyyah.

Mari kita coba bersama menguji dan mengkaji pemikiran mereka tersebut.
Kepastian akan timbulnya hizbiyyah pada amal jama’i memerlukan adanya dalil syar’i atau hissi (indrawi). Pada kenyata-annya, tidak ada di antara mereka yang sanggup mengemukakan suatu dalil syar’i dalam hal masalah ini. Sedangkan dalil hissi yaitu dalil dari kenyataan, maka tidak ada pembuktian kepastian timbulnya hiz-biyyah dalam setiap amal jama’i.

Hizbiyyah adalah bentuk pengikutan hawa nafsu dalam berpihak, hal ini bisa saja terjadi pada amal jama’i, pada kehi-dupan bermarga dan berkeluarga, berma-syarakat, bernegara, bermadzhab, berka-wan ataupun bersaudara dan lainnya.

Tidak seharusnya kita meninggalkan semua tata kehidupan tersebut karena ta-kut akan terkena hizbiyyah. Hizbiyyah ada-lah suatu kesalahan dan kesalahan adalah sekutu manusia. Setiap manusia pasti akan salah. Tidak berarti, demi menjauhi kesa-lahan kita harus berhenti menjadi manusia.

Di dalam setiap peribadatan bisa saja timbulnya riya’. Meninggalkan suatu per-ibadatan karena takut riya’ adalah suatu kesalahan fatal, seperti misalnya mening-galkan shalat jama’ah karena takut riya. Meninggalkan hizbiyyah adalah taklif dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak membeban-kan manusia melebihi kemampuannya.

Hizbiyyah bisa saja terjadi pada amal jama’i dan pada selain amal jama’i. Tugas kita adalah harus terus mengikis kesalahan-kesalahan kita, baik hizbiyyah ataupun la-innya, bukan malah menambah kesalahan dengan meninggalkan amal jama’i.

Meninggalkan suatu amal shaleh ka-rena takut atau kuatir terkena fitnah ada-lah perbuatan orang jahil atau munafiq. Hal ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam ketika beliau mengajak seorang pemuka masyarakat yang ternyata muna-fik untuk berjihad melawan bangsa Ro-mawi. Maka sang munafik menolak dengan alasan takut terfitnah oleh kecantikan gadis-gadis Romawi. Penolakan ini disebut oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai “jatuh ke dalam fitnah”, sebagaimana firman-Nya:

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلاَ تَفْتِنِّي أَلاَ فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِين

“Di antara mereka ada yang berkata: ”Be-rilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya ter-jerumus kedalam fitnah”. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus dalam fitnah. Dan sesungguh-nya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang kafir” [QS. at-Taw-bah (9): 49]

Ada pula yang mengakui pentingnya amal jama’i tetapi mereka mengatakan aqidah harus didahulukan sebelum haki-miyyah dan tanzhim. Perkataan seperti ini biasanya dilontarkan tanpa melalui pemi-kiran yang matang. Hakimiyyah adalah ba-gian aqidah yang besar sekali. Sedangkan tanzhim atau jama’iyyahnya dakwah ada-lah sarana dan bukan aqidah, yang kedua-nya tidak berada dalam satu jalur sampai bisa dan harus dikedepankan atau dikebe-lakangkan. Dan untuk menyiarkan aqidah itulah dibentuk tanzhim.

Di antara yang berpandangan negatif terhadap amal jama’i bersandarkan pada khabar-khabar yang belum pasti, bahwa ada sebagian ulama yang tidak menyetu-juinya atau sebagian besar ulama tidak me-lakukanya bahkan terkadang (dan ini ke-banyakan) hanya bersandarkan pada fatwa-fatwa beberapa da’i (yang secara tidak sa-dar mereka anggap sebagai ulama-ulama besar).

Kita adalah Ahlus Sunnah wal Jama-’ah bukan Ahlul bid’ah! dari itu sumber agama kita adalah al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’ shahabat, bukan lainnya. Siapa saja, ulama mana saja yang berfatwa de-mikian? Berapa orang mereka? Apakah di dunia Islam cuma mereka saja yang ada sehingga fatwa mereka menjadi ijma’ dan hujjah? Lagi pula, pada kenyataannya se-cara umum, sama sekali tidak ada ulama yang berfatwa demikian.

Kalau pun ada hanya terbatas pada buku-buku beberapa penulis (yang kita belum tahu tentang tingkat keilmuannya) yang menyatakan pen-dapat mereka bahwa di negeri tertentu (tempat tinggal si penulis) tidaklah syar’i membentuk jama’ah tanpa izin imam mereka. Alasan si penulis adalah karena imam di negeri itu adalah imam syar’i yang menerapkan syari’ah.

Apakah pendapat seperti ini harus hujjah atas setiap umat dan di semua tempat? Kalau pun ada ijti-had seorang alim yang mementahkan ke-syar’iyyahan amal jama’i, apakah ijtihad seorang alim saja bisa kita jadikan sumber untuk agama atas setiap ummat?

Masalah agama adalah masalah yang tegas dan bukan permainan. Barang siapa yang ingin menentang sesuatu secara syar’i, harus mengemukakan dalilnya, betapa pun tinggi ilmunya, kecuali Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: