Tinggalkan komentar

Hati-Hati Pemahaman yang Merebak Ditengah-tengah Ummat Tentang “Pengingkaran Hadits Shahih Ahad”

Mereka menerima dalil tersebut tapi tidak menggunakannya dalam perkara aqidah. Sedangkan iman itu diyakini didalam hati diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan pembuktian oleh anggota badan. Wallahu A’lam.

Berikut dikutip dari buku berjudul “Ahlussunnah Wal Jama’ah”

SEMUA HADITS SOHIH DITERIMA SEBAGAI DALIL DAN DASAR UNTUK SEMUA MASALAH TERMASUK MASALAH AQIDAH BAIK ITU HADITS MUTAWATIR ATAU PUN HADITS AHAD.  [1]

As-Salafus sholeh tidak pernah membeda-bedakan antara hadits ahad dan hadits mutawatir, tetapi secara teknis ulama-ulama hadits di kemudian hari telah mengadakan pembagian yang demi-kian itu. Hadits ahad adalah hadits yang pada salah satu tingkatan perawinya mempunyai bi-langan yang tidak sampai derajat mutawatir.

Ahlul bid’ah banyak menolak hadits-hadits ahad ini se-bagai dalil untuk aqidah dengan alasan hadits ahad tidak sampai pada derajat yakin. Alasan ini tidak diterima oleh Ahlussunnah wal Jama`ah sejak zaman Rosululloh sampai akhir zaman. Alasan seperti ini dilahirkan oleh kaidah-kaidah filsafat.

Semua ulama salaf dan kholaf sejak zaman sahabat dan zaman kita ini telah berijma’ menerima hadits ahad sebagai dalil untuk semua sisi agama Islam termasuk aqidah.

Semua Imam-imam sunnah semasa sahabat dan sesudah mereka (seperti empat Imam madzhab: Malik, Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad bin Hambal serta Al Imam Bukhori, dan Muslim serta  se luruh perawi buku-buku sunan yang empat seperti Tirmidzi, Abu Daud dan lain lainnya) semua mereka tidak membeda-bedakan penggunaan hadits-hadits shohih sebagai dalil untuk seluruh bagian agama Islam baik mutawatir maupun ahad.

Mereka telah meletakkan syarat-syarat yang ketat sekali untuk menyaring hadits-hadits ahad, untuk sampai pada keputusan tentang shohih atau tidaknya hadits tersebut.

Para sahabat yang mulia telah menerima ini di masa kehidupan mereka. Masing-masing mereka menerima hadits Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam dari lainnya yang mereka percayai walau pun satu orang saja.

Lebih dari itu Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam sering mengutus utusan beliau ke daerah-daerah untuk menyampaikan risalah Islam dengan orang-per-orang.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala pun telah me-ngutus Rosululloh Shallallohu `alaihi wa sallam untuk menyampaikan seluruh agamanya seorang diri.

(Modul Tarbiyyah Islamiyyah/ Buku Ahlussunnah Wal Jama’ah Hal: 28/ Lajnah Ilmiyyah HASMI)

[1] Baca Kitab “ Zawabi` Fi Wajh As Sunnah Qodiman wa Haditsan”, Sholahuddin Maqbul Ahmad serta Kitab “Ash Showaiq Al Mursalah”, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: