Tinggalkan komentar

Ketaatan

“Ketaatan Yang Diminta Sebuah Jama’ah Islamiyyah dari Seorang Anggota Hanyalah Ketaatan Pada Hal-hal Yang Tidak Ada Kemaksiatan Kepada-Nya dan Hanya Sebatas Hal-hal Yang Berhubungan dengan Misi Serta Amal dari Jama’ah.

KETAATAN

Ketaatan adalah perekat utama untuk berjama’ah. Ketaatan pada sebuah jama’ah adalah masalah hidup atau mati. Oleh karena itu, ketaatan banyak mempengaruhi kelangsungan atau kehancuran jama’ah. Seorang anggota yang tidak mentaati pimpinannya telah melucuti jama’ah dari satu pilar ke pilar lainnya.

Dia telah mengayunkan kampaknya ke dinding jama’ah. Ketika sebuah jama’ah Islamiyyah merupakan suatu benteng dari benteng-benteng ummat Islam, ini berarti sang anggota telah ikut serta dalam berusaha untuk membobol benteng itu bersama musuh-musuh Islam.

Ketidak-taatan bisa terjadi karena perintah sang pemimpin jelas-jelas berupa suatu kemaksiatan kepada Allah.

Tetapi pada pasal ini bukan ketidaktaatan seperti itu yang kita maksudkan. Ketidaktaatan seperti ini (hal maksiat) adalah wajib, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk pada hal kemaksiatan kepada Al-Khaliq.

Ketidaktaatan yang kita maksudkan disini adalah pada hal-hal yang ma’ruf. Ketidaktaatan seperti ini banyak disebabkan karena kemalasan atau ketidakpuasan atau ketidaksetujuan atau kesombongan dan lain-lainnya. Semua itu bisa diterima sebagai suatu alasan untuk suatu pembangkangan.

Pada masalah ketaatan inilah seorang anggota diuji keikhlasannya dalam berdakwah. Apakah keikhlasannya benar-benar demi Alloh, sehingga dia bersedia menekan semua perasaannya dan menjaga lisannya baik-baik demi kesuksesan amal yang diniatkan demi Alloh semata? Atau apakah di hanya ikhlas kepada dirinya sendiri, melaksanakan perintah karena dirinya setuju dan memabngkang ketik ahal itu tidak sejalan dengan pemikirannya.

Bagi mereka yang ingin memuaskan diri sendiri, sudah barang tentu ketaatan adalah sesuatu yang berat sekali. Berbeda halnya dengan seorang yang ikhlas karena Alloh hanya ridha-Nya semata.
Seorang yang mukhlis akan menganggap dirinya adalah seorang prajurit Alloh dan jama’ahnya adalah satu divisi dari divisi-divisi tentara Alloh yang banyak.

Sekali lagi ketaatan yang diminta sebuah jama’ah Islamiyyah dari seorang anggota hanyalah ketaatan pada hal-hal yang tidak ada kemaksiatan kepada-Nya dan hanya sebatas hal-hal yang berhubungan dengan misi serta amal dari jama’ah.

Kita dapati pada salah satu hadits Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam mengenai imarah kubra, Beliau bersabda :

“Barangsiapa yang mendapatkan pada amirnya apa-apa yang dibencinya, maka bersabarlah” (HR.  Bukhari, Muslim dan Ahmad, lafadz oleh Bukhari)

Dari hadits ini kita dapati betapa pentingnya suatu ketaatan dalam bentuk persatuan. Kita dapati pula bahwa pemecahan untuk gejolak jiwa ketika seseorang sedang melaksanakan ketaatan adalah kesabaran yaitu menekan semua panggilan pembangkangan. Cendikiawan Muslim (Dr. Muhammad Syarbini. M.H.I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: