Tinggalkan komentar

Kewajiban Mengikuti Sunnah Rasul dan Menjauhi Bid’ah

 

  1. DEFINISI AS SUNNAHKalimat As Sunnah menurut Istilah para Ulama:

    Para Ulama Hadits mendefinisikan As sunnah, yaitu:

    “Perkataan-perkataan Rasulullah saw, perbuatan-perbuatannya dan taqrir-taqrir (ketetapan-ketetapan) nya yang menjelaskan tentang apa yang terdapat didalam Al Qur’an dari hikmah-hikmah dan hukum-hukumnya. “

    Para Ulama Ushul Fikih mendefinisikan Sunnah, yaitu:

    “Perkataan Nabi Muhammad saw, perbuatan dan ketetapannya.”

    Selain dari pengertian diatas, adapula sebagian ulama baik hadits maupun ushul yang mengartikan As Sunnah dengan,

    “Apa-apa yang datang dari Nabi saw berupa perkataan, perbuatan dan ketetapannya serta apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya.”

    Singkatnya, sunnah ialah, sabda-sabda Nabi saw, perbuatan-perbuatannya, dan taqrirnya saw, yaitu perbuatan seorang sahabat Nabi yang beliau ketahui, tetapi beliau tidak menegur atau menyalahkannya. Yang semuanya itu berhubungan dengan bebrapa hikmah dan hukum yang bersumber kepada al Qur’an.

    Sedangkan ulama ahli fikih mengartikan As Sunnah, yaitu:

    “Apa-apa yang jika seseorang mengerjakannya, maka ia mendapatkan pahala, dan tidak mendapat dosa bagi orang yang meninggalkannya”.

    Artinya, sesuatu yang diberi pahala orang yang mengerjakannya dan tidak disiksa orang yang meninggalkannya. Atau suatu perbuatan dalam Agama, jika dikerjakan mendapat pahala dan tidak mendapat siksa bagi yang meninggalkannya.

  2. PERINTAH ALLAH UNTUK MENGIKUTI SUNNAH RASULULLAH SAWAllah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzaab: 21)

    “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 30-31)

    Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS. Al A’raaf: 156-158)

    “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al Furqaan: 27-30)

    “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’aam: 153)

    “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7)

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, dimana jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Yaitu Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya saw.” (HR. Malik dan Hakim)

  3. ANCAMAN MENGINGKARI SUNNAH RASULULLAH SAW
    1. Akan menjadi Penghuni jahannam.Allah SWT berfirman:

      “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisaa’: 115)

    2. Akan ditimpa musibah yang berterusan.“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nuur: 63)
    3. Tidak diakui sebagai Ummat IslamDari Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Bukan dari golongan kita (golongan kami) barangsiapa yang beramal bukan dari sunnah kita (sunnah kami)”. (H.R Ad Dailami)
  4. HIKMAH MENGIKUTI SUNNAH RASUL SAWBerdasarkan dalil-dalil diatas, orang yang mengikuti sunnah Rasulullah s.a.w akan mendapatkan keistimewaan dan jaminan keselamatan. Antara lain;
    1. Akan mendapatkan rahmat Allah swt.Allah SWT berfirman:

      “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raaf: 157-158).

    2. Akan mendapatkan Mahabbatullah (kecintaan kepada Allah)Allah SWT berfirman:

      Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imraan: 31-32)

    3. Akan mendapatkan Hidayatullah (petunjuk dari Allah)Allah SWT berfirman:

      Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS. Al A’raaf: 158)

    4. Akan mendapatkan Maghfirah (ampunan dari Allah)Allah SWT berfirman:

      “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzaab: 70-71)

    5. Akan mendapatkan Taqwallah (ketaqwaan kepada Allah)Allah SWT berfirman:

      “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’aam: 153)

    6. Akan mendapatkan kejayaan atau kesuksesanAllah SWT berfirman:

      “Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzaab: 71)

      “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS. Ali Imran: 185)

      “Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raaf: 158)

    7. Terlepas dari penyesalan pada hari KiamatAllah SWT berfirman:

      “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al Furqaan: 27-30)

    8. Hidupnya tidak akan tersesat selamanyaRasulullah SAW bersabda:

      “Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, dimana jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Yaitu Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya saw.” (HR. Malik dan Hakim)

    9. Mendapat jaminan diterimanya amalanBerkata Fudhail bin ‘Iyadh ra:

      Sesungguhnya andaikata suatu amalan ikhlas tapi tidak benar, maka amalan itu tidak diterima. Dan andaikata benar tapi tidak ikhlas, juga tidak diterima, hingga ia ikhlas dan benar. Ikhlas semata karena Allah dan benar bila sesuai dengan Sunnah.” (Iqtidhaa’ Shirathal Mustaqim, Ibnu Taimiyyah, hal. 451)

      Rasulullah saw bersabda,

      “Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada petunjuknya dari kami, maka ia tertolak”. (HR. Bukhari Muslim)

  5. TIDAK BOLEH MENINGGALKAN Al QUR’AN & SUNNAH KARENA PERKATAAN SESEORANGAllah SWT berfirman:

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS. Al An’aam: 116)

    Diriwayatkan oleh Abu dawud dan At Tirmidzi, dari al ‘Irbadh bin Sariyah, ujarnya:

    “Pada suatu hari, Rasulullah saw memberi nasehat kepada kami (para shahabat). Beliau memberi satu pelajaran yang menggetarkan hari kami dan mencucurkan airmata kam semua. Lantaran itu kami bertanya kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, pengajaran ini seakan-akan suatu penghabisan dari seorang yang akan pergi, atau pengajaran orang yang hendak pindah. Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Saya wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang hamba sahaya (selama ia berpegang kepada syari’at). Ketahuilah, bahwa orang yang hidup lama diantara kalian, kelak akan melihat perselisihan yang banyak. Karena itu, berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin (khalifah pengganti Rasul), gigitlah ia dengan gerahammu. Dan jauhi olehmu akan segala perbuatan yang diada-adakan, karena bahwasannya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu membawa keneraka.”

    Imam Syafii rahimahullah berkata,

    “Para sahabat, tabi’in dan tabiut tabiin bersepakat (ijma’) bahwa seseorang yang telah jelas kepadanya sunnah Nabi (mengetahui bahwa sunnah tersebut memang benar), maka tidak boleh baginya meninggalkannya karena perkataan seseorang”.

    Imam Malik rahimahullah berkata,

    “Setiap orang perkataannya boleh diterima dan boleh ditinggalkan kecuali perkataan orang yang membawa risalah ini (yaitu Nabi) shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

  6. KEWAJIBAN BERPEGANG KEPADA SUNNAH DAN MENJAUHI BID’AHRasulullah saw bersabda:

    “Adapun sesudah itu maka sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad s.a.w, dan tali ikatan yang paling kokoh ialah ikatan taqwa, dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang baru (dalam Agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru (dalam Agama) itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Al Baihaqi dll)

    “Al ‘Irbadh bin Sariyah telah berkata, “Suatu hari Rasulullah saw pernah shalat bersama kami kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seolah-olah nasehat dari seorang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat. ‘Maka Rasulullah saw bersabda: ‘Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup diantara kalian setelahku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dna sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat”

    Berdasarkan hadits pertama diatas, maka sesungguhnya seluruh bid’ah adalah sesat tidak ada bid’ah hasanah. Karena Agama Islam sudah sempurna di masa hidup nabi s.a.w. dan dia tidak memerlukan tambahan dari siapapun juga. Allah S.W.T berfirman:

    “Pada hari ini telah Ku sempurnakan bagimu Agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku ridhai Islam sebagai Agamamu”. (Q.S. Al-Maaidah, 5: 3)

    Imam Malik bin Anas rhm. berkata:

    “Barangsiapa mengada-adakan suatu bid’ah dalam Islam, yang ia memandang bid’ah itu hasanah, maka sesungguhnya ia telah mangira bahwa Muhammad telah berkhianat atas risalah Tuhan, karena sesungguhnya Allah telah berfirman: ‘Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kamu agama kamu. ‘ Maka apa-apa yang tidak jadi agama pada hari itu, tidaklah menjadi agama pada hari ini.”

    Berkata Sahabat Abdullah bin Umar r.a:

    “Tiap-tiap bid’ah itu sesat, sekalipun manusia memandangnya baik.”

    Berkata sahabat Ibnu Mas’ud r.a

    “Ber’ittiba’lah kamu kepada Rasulullah dan janganlah kamu ber ibtida’ (mengada-ada tanpa dalil), karena sesungguhnya agama ini telah dijadikan cukup buat kalian, dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”.

    Imam Ibnu Rajab Al Hambali rhm. berkata: “Perkataan beliau “setiap bid’ah itu adalah kesesatan” merupakan ‘jawaami’ul kalim’ (suatu kalimat yang ringkas namun memiliki arti yang sangat luas) yang meliputi segala sesuatu. Kalimat itu merupakan salah satu dari pokok-pokok ajaran agama yang agung.”

    Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rhm. berkata: “Perkataan beliau ’setiap bid’ah adalah kesesatan’, merupakan suatu kaidah agama yang menyeluruh, baik itu secara tersurat maupun tersirat. Adapun secara tersurat, maka seakan-akan beliau bersabda: “Hal ini bid’ah hukumnya dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”, sehingga ia tidak termasuk dari bagian agama ini, sebab agama ini seluruhnya petunjuk. Oleh sebab itu maka apabila telah terbukti bahwa suatu hal tertentu hukumnya bid’ah, maka berlakulah dua dasar hukum itu (setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan bukan dari agama), sehingga kesimpulannya adalah tertolak.”

  7. TIDAK BOLEH TAKLID MENGIKUTI PENDAPAT ORANGFirman Allah dalam Al Qur’an:

    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (Q.S. Al An’am: 116)

    Berkata Umar bin Khathtab r.a:

    “Wahai Manusia, sesungguhnya fikiran itu tidak lain adalah dari Rasulullah s.a.w sendiri yang benar, karena Allah telah memberikan pendapat kepadanya, dan tidak ada yang lain fikiran dari kami itu melainkan persangkaan dan pencarian saja”.

    Dan beliau berkata lagi:

    “Sesungguhnya ahli fikir (qiyas) itu musuh-musuh sunnahNabi, mereka itu tidak dapat menyimpan hadits-hadits dan terluput dari mereka riwayat-riwayatnya, dan mereka malu ketika ditanya untuk menyatakan: “Kami tidak mengerti”. Maka mereka menyaingi sunnah-sunnah dengan fikiran mereka, maka itu takutlah olehmu dan jauhkanlah olehmu mereka itu”.

    Imam Malik rhm. berkata:

    “Tidak ada seorangpun setelah nabi s.a.w kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi s.a.w”.

    Semua imam madzhab yang empat melarang kaumnya mengikuti mereka dalam beragama, mereka menyuruh sepaya mengikuti hadits yang shahih. Para Imam itu berkata:

    ” Jika itu adalah hadits shahih, maka itu adalah madzhabku”

  8. PENGERTIAN BID’AH
    1. Secara BahasaKata ‘Al Bid’ah’ menurut bahasa berarti “Sesuatu yang baru yang tidak didahului oleh contoh” atau “Sesuatu yang diadakan dengan bentuk yang belum pernah ada contohnya”. Sebagaimana Firman Allah:

      “Allah yang mengadakan langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (Q.S. Al Baqarah: 117)

      “Katakanlah olehmu (Muhammad): “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (Q.S. Al Ahqaaf: 09)

      Dari pengertian diatas Bid’ah dapat pula diartikan dengan;

      1. Membuat-buat (ciptaan)
      2. Sesuatu yang baru, sesuatu yang diada-adakan ( ditambah-tambah )
      3. Merubah dari bentuk asli atau menukar ganti
      4. Berarti juga menyembunyikan
    2. Secara Syar’i“Bid’ah ialah setiap yang bertentangan dengan sunnah dari jenis perkataan, perbuatan, atau pegangan (aqidah) , sekalipun melalui usaha ijtihad”

      Sebagian Ulama ahli hadits menta’rifkan bid’ah ialah:

      “Yaitu urusan yang baru didalam agama, baik berupa aqidah, ibadah maupun berupa sifat bagi ibadat yang belum pernah ada (terjadi) dimasa Rasulullah s.a.w.”.

    Imam Asy Syatibi rhm. berkata:

    1. Dalam kitabnya ‘Al I’tisham’ menulis tentang ta’rif bid’ah:“Ibarat satu thariqat (jalan/cara) diada-adakan dalam agama, yang menyerupai hukum syari’at, yang dimaksudkan dengan mengerjakannya ialah ingin mengabdikan diri (beribadat) kepada Allah yang Maha Suci”
    2. Beliau juga mengungkapkan definisi lain: “Bid’ah adalah suatu cara dalam agama ini yang dibuat-buat, bentuknya menyerupai ajaran syari’at yang ada, tujuan dilaksanaknnya adalah sebagaimana tujuan Syari’at.”Beliau menetapkan definisi kedua tersebut, bahwa kebiasaan itu bila dilihat sebagai kebiasaan biasa tidak akan mengandung kebid’ahan apa-apa, namun bila dilakukan dalam wujud ibadah, atau diletakkan dalam kedudukan sebagai ibadah, ia bisa dimasuki oleh bid’ah. Dengan cara itu, bararti beliau telah mengkorelasikan berbagai definisi yang ada. Beliau memberikan contoh untuk kebiasaan yang pasti mengandung nilai ibadah, seperti jual beli, pernikahan, perceraian, penyewaan, hukum pidana, . . . karena semua itu diikat oleh berbagai hal, persyaratan dan kaidah-kaidah syari’at yang tidak menyediakan pilihan lain bagi seorang muslim selain ketetapan baku.

    Imam Ibnu Taimiyyah rhm. berkata:

    “Bid’ah dalam Islam adalah segala hal yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya, yakni yang tidak diperintahkan baik dalam wujud perintah wajib ataupun dalam bentuk anjuran.”

    Bid’ah itu sendiri ada dua macam: Pertama, bid’ah dalam bentuk ucapan dan keyakinan. Kedua, bid’ah dalam bentuk perbuatan dan ibadah. Bentuk kedua ini mencakup juga bentuk pertama, sebagaimana bentuk pertama dapat menggiring pada bentuk yang kedua. Atau dengan kata lain, hukum asal ibadah adalah dilarang kecuali yang disyari’atkan. Sedangkan hukum asal permasalahan dunia adalah diperbolehkan kecuali ada dalil syari yang melarangnya.

    Beliau juga menyatakan: “Bid’ah adalah yang bertentangan dengan kitab Allah dan Sunnah Rasulullah saw, atau ijma’ para salaf berupa ibadah mauun keyakinan, seperti pandangan kalangan khawarij, Rafidhah, Qadariyyah, Jahmiyah. Mereka yang beribadah dengan tarian dan nyanyian dalam masjid. Demikian juga mereka yang beribadah dengan cara mencukur jenggot, mengkonsumsi ganja dan berbagai bid’ah lainnya yang dijadikan sebagai ibadah oleh sebagian golongan yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasullah saw.

    Jadi, yang dimaksudkan bid’ah didalam agama itu ada dua macam:

    1. Satu cara yang diada-adakan orang dalam agama dengan tujuan mengerjakannya untuk beribadah kepada Allah secara berlebih-lebihan.
    2. Satu cara dalam Agama yang diada-adakan orang dengan tujuan mengerjakannya bahwa dia dipandang menyerupai syari’at, seperti apa yang dimaksukan oleh syari’at.
  9. BAHAYA BID’AH BAGI UMAT ISLAM“Dari Ghudaif bin Al Harits r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak mengada-adakan suatu kaum akan suatu bid’ah, melainkan diangkatlah semisalnya daripada sunnah, maka berpegang dengan sunnah itu lebih baik daripada mengada-adakan bid’ah” (H.R.Ahmad)

    Dan dari (Ghudaif) juga ia berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada dari suatu umat mengadakan suatu bid’ah sesudah nabinya dibidang agamanya, melainkan ia melenyapkan semisalnya daripada sunah.” (H.R. Thabrani)

    Dari Ibnu ‘Abbas r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak akan lenyap sesuatu daripada sunnah, sehingga tampaklah yang semisalnya daripada bid’ah, sehingga lenyaplah sunnah dan tampaklah bid’ah, sehingga dianggap cukuplah bid’ah itu bagi orang yang tidak mengenal sunnah.” (H.R. Ibnul Jauzi)

    Dari ibnu Abbas r.a. berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya dimasa kemudian aku akan ada peperangan diantara orang-orang beriman”. Seorang sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: “Kami telah beriman.” Rasulullah s.a.w bersabda: “Ya, karena mengada-adakan didalam agama, apabila mereka mengerjakan agama dengan pendapat fikiran, padahal didalam agama itu tidak ada pendapat fikiran. Sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintahNya, dan laranganNya. . .”.

  10. BAHAYA BID’AH BAGI PELAKUNYADari Aisyah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: “Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang bukan perintah kami maka ia tertolak.” Dan dalam riwayat lain: “Barangsiapa mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan daripadanya, maka ia tertolak.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

    Dari Abdullah bin Abbas berkata: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Allah enggan akan menerima amal perbuatan orang yang ahli bid’ah, sehingga ia meninggalkan bid’ahnya.” (H.R. Ibnu Majah)

    Dari Hudzaifah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Allah tidak akan menerima bagi orang yang ahli bid’ah akan shalatnya, puasanya, shadaqahnya, hajinya, umrahnya, jihadnya, taubatnya, dantidak akan menerima tebusannya. Ia keluar dari Islam seperti keluarnya helai rambut daripada tepung.” (H.R. Ibnu Majah)

    Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah menutup taubat dari tiap-tiap orang dari ahli bid’ah sehingga ia meninggalkan bid’ahnya.” (H.R. Thabrani)

    Dari Abu Bakar Shiddiq r.a. berkata: Bahwasannya Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Sesungguhnya Iblis berkata: “Aku menghancurkan umat islam dengan dosa-dosa, lalu mereka membinasakan aku dengan istighfar; maka ketika aku melihat yang demikian itu, aku merusakkan mereka dengan hawa nafsu –bid’ah-, lalu mereka menyangka bahwa mereka itu mendapat petunjuk yang benar, lantas mereka tidak sama memohon ampunan.”

    Dari Anas r.a berkata: Bahwasannya Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba apabila telah melakukan bid’ah, syetan bertemu dengan sembunyi padanya dan ibadat, dan menjatuhkan atasnya rasa khusu dan tangis.” (H.R. Abu Nashar)

    Dari Jundab Al Bajili berkata; Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Apa yang akan kamu katakan pada suatu kaum yang penuntun (pemimpin) mereka masuk surga dan pengikut mereka masuk neraka? Para Sahabat berkata: “Ya Rasulullah, sekalipun mereka mengerjakan pekerjaan seperti pekerjaan mereka?, Rasulullah bersabda: “Dan sekalipun mereka berbuat sebagaimana pemimpin mereka berbuat.” Mereka masuk surga sebab apa-apa yang terdahulu bagi mereka, dan mereka masuk neraka sebab apa yang mereka ada-adakan.” (H.R. Samuwaih)

    Dari Anas r.a. berkata; Rasulullah s.a.w mengantuk sebentar, lalu mengangkat kepalanya dengan tersenyum kemudian bersabda: “Sesungguhnya baru saja diturunkan kepadaku satu surat.” Beliau lalu membaca “Bismillaahirrahmaanirrahiim” Innaa a’thainaakal kautsar.” (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada engkau (Muhammad) alkautsar). Beliau membacanya hingga selesai satu surat. Beliau bersbda: “Al Kautsar itu sebuah sungai yang Tuhanku telah memberikannya kepadaku didalam surga yang diatasnya ada beberapa kebaikan, kelak hari Kiamat Ummaku akan datang kepadanya. Alat-alat mengambilnya (bejana) seperti banyaknya bintang-bintang, seorang hamba dari ummatku terjauh dari mereka (umat), lalu aku berkata: “Ya Tuhan sesungguhnya dia adalah ummatku!”. Lalu dikatakan kepada belaiu: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang telah diada-adakannya sepeninggalmu.” (H.R. Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Jarir At Thabari)

    Dari al Hakam bin Umair berkata, Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Perkara yang sangat jelek, dan beban yang amat berat dan perbuatan jahat yang tidak putusnya telah menampakkan beberapa perbuatan bidah.” (H.R. At Thabrani)

    Dari Anas r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Barangsiapa yang mengicuh umatku, maka murka Allah kepadanya, dan murka malaikat, dan murka segenap manusia.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah, apa yang dinamakan mengicuh?” beliau menjawab: bahwa ia berbuat bid’ah kepada mereka suatu bid’ah lalu dikerjakannya.” (H.R.Ad Daruqutni)

    Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Akan datang suatu kaum yang akan membunuh sunnah dan berlebihan tentang agama, maka atas mereka itu la’nat Allah dan la’nat orang-orang yang melaknat, dan la’nat malaikat serta la’nat segenap manusia”. (H.R. ad Dailami)

    Dari Abi Umamah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Ahli-ahli bid’ah itu anjing-anjing neraka.” (H.R Abu Hatim)

    Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Bukan dari golongan kita (golongan kami) barangsiapa yang beramal bukan dari sunnah kita (sunnah kami)”. (H.R Ad Dailami)

    Dari Aisyah r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “sesungguhnya agama islam itu akan berkembang, kemudian akan ada padanya keterlambatan, maka barangsiapa yang keterlambatannya melebihi batas dan bid’ah, maka mereka itu ahli neraka.” (H.R Thabrani)

    Dari Anas r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Ahli bid’ah itu seburuk-buruk makhluk dan seburuk-buruk yang diciptakan”. (H.R Abu Nu’aim)

    Dari Abdullah bin Busyr r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Barangsiapa menghormati seorang ahli bid’ah maka sesungguhnya ia telah menolong untuk kehancuran agama islam.” (H.R Thabrani)

    Dari Anas r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Apabila mati seorang ahli bid’ah, maka sesungguhnya telah dibukalah (menanglah) didalam Islam suatu kemenangan”. (H.R. Al Khatib dan Ad Dailami)

Demikianlah hujjah-hujjah syar’i yang menunjukkan bahaya dan kejelekan bid’ah didalam Islam, oleh karena itu wajiblah atas sekalian Ummat Islam berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah saw dan menggigitnya sekuat-kuatnya dengan gigi gerahamnya sehingga tidak terlepas dari padanya. Berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah saw akan menjamin keselamatan dunia dan akhirat. Berkata Imam Ahmad rhm: Sunnah itu bagaikan perahu nabi Nuh a.s, siapa yang masuk kedalamnya pasti selamat, dan siapa yang enggan dan tidak mau memasukinya pasti celaka dan binasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: