1 Komentar

Asing Bagi Manusia Dekat Bagi Alloh

Manusia-manusia aneh! Begitu ungkapan yang sering terdengar di telinga aktivis pergerakan. Secara penampilan mereka layaknya masyarakat umum, tak ada hal yang istimewa dan mencolok. Mereka familiar ditengah masyarakat, berkumpul dan bergaul. Perilakunya sopan, ringan terhadap sesama dan pribadinya menarik. Hal yang mencolok berbeda adalah ketekunan dalam beribadah dan keteguhan untuk tidak larut dalam berbagai aktivitas yang mereka anggap jahiliyah.

Asing bukan identik dengan tidak dikenal. Asing bukan berarti jauh dari masyarakat. Masyarakat menganggap asing karena tidak mengikuti lazimnya manusia yang serba boleh. Mereka meniggakan bentuk-bentuk penyimpangan, kebudayaan atau tradisi (padahal tradisi ini sudah turun-temurun). Bagi masyarakat, mereka asing karena benci kempanan dalam tradisi yang berbau kesyirikan, bid’ah, dan khurafat. Mereka tidak larut dalam hiruk pikuk demokrasi. Mereka juga jauh dari gegap gempita kebebasan, sekulerisme, kekuasaan-kekuasaan dan gelegar syahwat.
Mereka istiqomah dalam berprinsip. Mereka berjuang dengan sungguh-sungguh, baik dengan lisan, harta maupun fisik. Teguh dalam bertauhid, mengakkan al-wala’ wal bara’ (cinta terhadap orang-orang beriman dan benci terhadap orang-orang kafir) serta melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar.
Dalam lintas perjalanan manusia, mereka yang dianggap aneh dan asing pernah menapaki sejarahnya yang cemerlang. Asing disuatu masa dan kaum, tetapi emas dan berlian bagi masa dan kaum lainnya.
Nabi Luth pernah di anggap asing dan aneh. Ia menyampaikan dakwah tauhid dan mengajar moral yang baik kepada kaumnya. Beliau hidup di komunitas gay dan lesbian. Dengan sabar dan sopan mengajak kaumnya untuk meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan tersebut. Ajakan beliau yang lemah lembut bukan diterima dengan baik, justru berbalas cercaan dan pengusiran dari kaumnya. Alloh mengisahkan, “ Maka tidak lain jawaban keumnya menlainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negrimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (manda’wakan dirinya) bersih.” (An Naml: 56)
Komunitas Jahiliyah akan merasa terganggu dengan kebenaran. Pengemban dakwah pun merasa asing di tengah masyarakatnya yang jahiliyah. Ia diusir, diintimidasi bukan karena tindak kriminal atau perbuatan asusila, tapi karena ajaran mereka.
Ada pula kisah Abu Bakar Ash Shidiq – Tatkala kaum muslimain mendapat penindasan dan penganiayaan dari kaum musyrikin, Abu Bakar pergi untuk berhijrah menuju Habasyah. Ketika sampai di Bark Al-Ghimad, sebuah tempat yang berjarak tempuh lima malam dari Makkah ke arah Yaman, beliau berjumpa dengan pemimpin kabilah Qaraah, Ibnu Ad-Dhaginah.
Ia bertanya,”Wahai Abu Bakar, hendak kemanakah anda?” Abu Bakar menjawab, “ Saya telah diusir oleh kaumku sendiri. Maka saya ingin berkelana di muka bumi dan beribadah kepada Rabb-ku.” Ibnu Dhaginah berkata “ Wahai Abu Bakar , tidak pantas keluar atau dikeluarkan dari Makkah. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahmi, membantu orang miskin, menanggung beban orang menderita, menghormati tamu, dan membantu para pengemban kebenaran. Saya akan melindungi anda, kembalillah dan sembahlah Rabb-mu di negrimu.” Akhirnya Abu Bakar radhiyallahuanhum Kembali ke Makkah.
Yang mengusir Abu Bakar adalah kaumnya sendiri, kerabatnya sendiri. Setelah beliau menjadikan Islam sebagai panutan hidupnya, beliau merasa asing ditengah kerabatnya sendiri. Untuk menyelamatkan aqidahnya beliau harus keluar dari negeri Makkah, tanah airnya. Beginilah, para pemegang kebenaran; terusir merasa asing dan terasing ditengah masyarakat, dinilai kolot, tidak zamani.
Masih tentang kisah emas keterasingan, ada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ditangah komunitas tarekat sufi dan para cendikiawan yang sedang mendewakan filsafat, Ibnu Taimiyah tampil menyerukan dakwah salafiyah; agar umat dan ulama kembali ke pemahaman salafush sholeh dalam memahami Al-Qur’an dan Islam.
Para syaikh tarekat sufi, masyarakat awam dan cendikiawan-cendikiawan yang sudah teracuni oleh filsafat merasa asing dan gerah terhadapa apa yang di dakwahkan oleh Ibnu Taimiya rahimahullah . Mulailah intimidasi, teror dan berbagai tuduhan dialamatakan kepada beliau.
Menurut mereka pemahaman yang ia bawa asing, tidak memasyarakat dan bertolak belakang dengan apa yang dipahami oleh mayoritas masyarakat saat itu. Beliau harus merelakan dirinya untuk di usir dan dipenjara. Tidak hanya beliau muridnya Ibnul Qoyyim harus merasakan akibatnya, ia ditarik keliling kota dan dipermalukan sedang buku-bukunya dibakar.
Sejarah senantiasa ditulis dengan tinta emas manusia-manusia pilihan.Terasing tidak mesti salah, keliru dan menyimpang. Namun, tidak semua keterasingan adalah benar dan haq. Asing dan keterasingan adalah sikap sosial terhadap pola pikir terhadap perilaku seseorang. Keterasingan juga disebabkan karena meruntuhnkan tradisi batil yang telah mapan. Sebaliknya, jika keterasingan karena buruknya akhlak celanya perbuatan dan keruhnya hati, itulah bencana seorang aktivis pergerakan. Asing tidak identik jauh dari masyarakat, keterasingan yang kita rindukan adalah keterasingan yang melahirkan mutiara-mutiara pada setiap zaman dan ruang dimana ia beramal.(ashabul kahfi)

One comment on “Asing Bagi Manusia Dekat Bagi Alloh

  1. Saya baru pertama ini membuka situs ini maka saya belum tahu secara pasti apa saja isinya, hanya saya berharap sering – sering membahas tafsir Qur’an dan hadis Nabi yang berkaitan dg situasi negara saat ini, agarar ada pesoman dan solusi untuk kami menyikapi hidup yang kaco ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: