Tinggalkan komentar

Gerakan Kebangkitan di Indonesia

Di Indonesia, sejak awal abad ke-20 sampai sekarang gerakan-gerakan Islam terus bermunculan. Gerakan-gerakan yang berdiri pada zaman penjajahan pada umumnya berkonsentrasi pada lapangan pendidikan formal dan pesantren. Sedangkan gerakan-gerakan yang terlahirkan setelah kemerdekaan kebanyakan berkonsentrasi kepada gerakan massa.

Selain gerakan-gerakan yang memang murni produk Indonesia, ada juga gerakan-gerakan yang merupakan “gerakan anak” dari harokah-harokah di Timur Tengah, seperti misalnya Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir.
Seperti halnya banyak gerakan-gerakan di luar Indonesia, gerakan-gerakan Islam di Indonesia pun banyak yang masih mengidap beberapa pandangan dasar yang masih harus sangat dipertanyakan, di antaranya:

1. Tujuan gerakan banyak berorientasi pada problematika duniawi saja. Dengan demikian keterpurukan ruhani kurang mendapat perhatian. Padahal keterpurukan ruhanilah induk dari segala keterpurukan dan ancaman akhirat atas umat yang mengidap keterpurukan ruhani jauh lebih dahsyat daripada penderitaan atau keterpurukan duniawi. Orientasi seperti ini akan melahirkan strategi yang tak bisa dipercaya akan sanggup mewujudkan kebangkitan total.

2. Walaupun hampir semua aktifis gerakan-gerakan itu adalah putra-putra Ahlus Sunnah, tetapi jarang sekali didapat gerakan yang mengusung manhaj Ahlus Sunnah sebagai suatu manhaj yang harus dianut oleh umat secara keseluruhan.

Dengan dalih persatuan atau dengan maksud mengumpulkan anggota sebanyak-banyaknya, perhatian terhadap penyaringan manhaj tidak mendapat porsi yang cukup. Bahkan di antara organisasi-organisasi itu tidak sedikit yang terang-terangan mengakui keabsahan atau bahkan mengaku sebagai penganut aliran-aliran yang bertentangan dengan manhaj Ahlus Sunnah seraya mengklaim bahwa organisasi mereka adalah organisasi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ada pula yang menjadikan penentangan terhadap Ijma’ Ahlus Sunnah tentang penerimaan hadits-hadits ahad, sebagai salah satu dasar penting dalam akidah mereka. Dengan demikian kemurnian yang menjadi suatu dasar penting untuk kebangkitan ruhani dan kekhilafahan telah terinjak-injak, maka bagaimana mungkin kebangkitan sejati bisa tercapai?

Ketika orientasi kepada “kebangkitan ruhani” dan “kemurnian” melemah, sulit dibayangkan usaha-usaha kebangkitan bisa menghasilkan kebangkitan sejati yang menjadikan penitian Sirotulmustaqim mendominasi kehidupan umat ini.

Orientasi kepada hal-hal yang diperlukan dari kebangkitan ruhani seperti jilbab, pengucapan salam, cara berpakaian dan sebagainya memang ada. Tetapi isi yang lebih dalam dari kebangkitan ruhani seperti kemurnian akidah pengikutan sunnah, pemahaman yang benar dalam membaca realita dan sebagainya sangatlah lemah.

http://intisari.hasmi.org/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: