1 Komentar

Mengolok-olok Agama Islam

Remeh, tapi mematikan. Seperti setetes tuba yang tercampur dalam kubangan air susu, merusak semua-nya. Tak ada beda, se-ngaja ataupun tidak keduanya tercampurkan.

Dan ada “setetes” yang sangat berba-haya bagi eksistensi keimanan seseorang: “Istihza”, yaitu mengolok-olok seluruh, atau salah satu bagian dari agama yang mulia ini. Baik dengan sengaja maupun hanya sekedar bersenda gurau. Baik dengan lisan, maupun dengan gerakan anggota badan, seperti kedipan, sunggingan bibir dan lain sebagainya.

Istihza’ (mengolok) terhadap Allah, Al-Qur’an dan Rasul-Nya hari ini dipandang sebagai hal remeh dan tidak berdampak apa-apa. Justru dari peremehan inilah, ia menjel-ma sebuah monster kekafiran yang

Kadang tersembunyi dalam selimut kei-manan.

Atau mungkin, ada sebagian orang yang kebangetan pinternya, mencoba mengarti-kan lain, “bukan mengolok-olok, ini adalah mengkritisi, memberikan wacana agar kaum muslimin mendapat pencerahan, se-hingga tidak selalu berwatak tradisi-onalis…”

Nah… yang seperti ini pun tidak jauh beda dengan pinang yang di belah dua, hanya saja mereka itu memang terlalu kepinteran jadinya memiliki istilah-istilah baru seperti itu. Sayangnya lagi, istilah-istilah baru itu me-reka dapatkan dari kamus-ka-mus yang bersemayam di negeri-negeri kaum kafirin. Oooh…

Begitulah…, di negeri ini, di zaman modern ini, begitu banyak orang-orang yang mudahnya mencela agama yang mulia ini. Sa-yangnya, orang-orang yang tidak mampu menjaga lisannya tersebut adalah orang-orang yang notabene mendapat kedudukan di mata kaum muslimin, sehingga mereka pun mendapat sematan “cendikiawan muslim”.

Padahal…, seharusnya mereka maupun kita benar-benar takut terhadap adzab-Nya, dan senantiasa mengingat apa yang pernah terjadi pada masa Rasululloh .

Rasululloh dan para shahabatnya pernah dicaci oleh beberapa orang dalam suatu per-jalanan menuju Tabuk. Mereka yang men-caci beralasan; “kami hanya bergurau dan bermain-main.”

Fatal! Rasulullah tidak menerima per-mintaan maaf mereka. Bahkan beliau mem-bacakan kepada mereka hukum Allah yang turun dari atas langit ketujuh. “Katakanlah, apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Ti-dak usah kalian meminta maaf karena kalian telah kafir sesudah beriman.”(QS. At-Taubah: 65)

Apakah kita masih bisa merasakan ke-tenangan dan tidur lelap, bila saja dalam satu kali lisan kita tergelincir dalam perkara ini? Sungguh tiada guna gelar doktoral atau yang lain-nya bila tidak memahami perkara ini.

Orang-orang yang berbuat istih-za ha-nyalah orang-orang yang bodoh. Bagaimana mungkin mereka akan menghina agama yang tidak ada cacat di dalamnya dan me-reka yakini, kecuali hal itu didasari oleh ha-wa nafsunya.

Dan memang demikian, mereka itu be-nar-benar bodoh. Ada seorang yang begitu bo-dohnya mengolok agama  yang mulia ini de-ngan menolak syari’atnya. Alasannya, karena syari’at itu merupakan bentuk arabi-sasi. Selidik punya selidik…, eh, yang berkata ini mempunyai nama asing di depannya, tapi lucunya di belakangnya dia menyandang nama Muhammad. Loh…, kalau takut arabisasi, kenapa tidak ganti aja tuh belakang namanya mas, jadi goenawan ter-puji, misalnya. Jangan goenawan Muhammad.

Hukuman Para Pelakunya

Kaum muslimin di setiap zaman telah bersepakat bahwa orang yang mencela Alloh dan Rasul-Nya atau agama-Nya, maka wa-jib untuk dibunuh. Jika yang mencela ada-lah seorang muslim, maka ketika itu ia te-lah murtad dan wajib dibunuh karena kemur-tadannya tersebut. Jika yang mencela ada-lah seorang kafir dzimmi, maka batallah ika-tan perjanjian untuk melindunginya dan wa-jib untuk dibunuh.

Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan para shahabat) bahwa orang yang mencela Rasulullah wajib dibunuh.

Berkata al-Khatthabi: “Aku tidak mengetahui adanya perselisihan tentang (orang yang mencela) wajib untuk dibunuh jika dia (si pencela) seorang Muslim..”

Berkata Ibnu Qudamah: “Barang siapa mencela Alloh maka dia telah kafir, sama saja apakah dengan bergurau atau sungguh-sungguh. Demikian pula (sama hukumnya dengan) orang yang mengejek Alloh atau ayat-ayat-Nya atau Rasul-Nya atau kitab-kitab-Nya…”

Berkata Ibnu Hazm:”Adapun men-cela Alloh maka tidak ada seorang Muslim pun di atas muka bumi yang menyelisihi bahwasanya hal itu adalah kekufuran (secara dzatnya)”, hanya saja Jahmiyyah dan Asy’-ariyyah mengatakan: `Hal ini (pencelaan terhadap Alloh) merupakan petunjuk adanya kekufuran, tetapi hal itu bukanlah kekufuran.’

Ibnu Hazm telah membantah pendapat kedua kelompok tersebut, beliau lalu ber-kata: “Suatu kebenaran yang meyakinkan bahwa barangsiapa yang mengejek sesuatu dari ayat-ayat Alloh atau mengejek seorang Ra-sul dari para Rasul Alloh maka dia menjadi kafir dan murtad karena hal itu.”

Dia juga berkata: “Benarlah apa yang telah kami sebutkan bahwasanya siapa saja yang mencela atau mengejek Alloh; atau seseorang malaikat dari para malaikat atau seorang nabi dari para nabi atau sebuah ayat dan ayat-ayat Alloh, maka dengan hal itu ia menjadi kafir yang murtad dan berlakulah hukum murtad padanya.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimi-yah: “Jika dia (si pencela) seorang Mus-lim, maka telah terjadi ijma’ bahwa dia wajib dibunuh, karena dia telah menjadi kafir yang murtad disebabkan (celaan tersebut), dan dia lebih buruk daripada orang kafir (yang bukan murtad). Karena seorang kafir (yang bukan murtad) menga-gungkan Rabb tetapi meyakini agama batil sebagai kebenaran, namun tidak (melaku-kan) pengolok-olokan terhadap Allah dan pencelaan terhadap-Nya.”

Berbeda dengan orang Islam yang men-cela Allah dia telah mengetahui Islam se-bagai agama yang benar sehingga memeluk agama Islam. Hal ini sebagaimana dijelas-kan oleh Al-Utsaimin, beliau berkata:

“Bagaimana seseorang bisa meng-hina

dan mengejek sesuatu perkara yang diimani. Seorang yang beriman terhadap sua-tu perkara, maka dia harus mengagungkan perkara tersebut dan di dalam hatinya ada pengagungan yang layak dengan perkara ter-sebut. Kekufuran ada dua, yaitu kufur
iradh dan kufur mu’aradhah.

Orang yang mengejek (beristihza) maka ia kafir dengan kekafiran mu’aradhah. Dan dia lebih besar (kejelekkannya) daripada orang yang hanya sujud kepada patung (tan-pa melakukan penetangannya). Ini adalah perkara yang sangat berbahaya. Perkataan seringkali mendatangkan bencana dan kebi-nasaan bagi orangnya dalam keadaan dia tidak menyadarinya.

Kadang seseorang mengucapkan kali-mat yang mendatangkan murka Allah se-dangkan ia tidak menganggapnya sebagai suatu yang penting, namun kalimat tersebut menjerumuskannya ke dalam api neraka.”

Sumber: Buletin Al-Huda edisi ke-12, 2008.

http://www.abumujahidah.com

Iklan

One comment on “Mengolok-olok Agama Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: