Tinggalkan komentar

Air Musta’mal

Di postingan kali ini kita akan mengulas tentang syubhat air musta’mal yang beredar di masyarakat kita yang selalu menjadi perdebatan diantara kaum muslimin tentang sah dan tidaknya air tersebut untuk di pakai bersuci.

Ada sebuah kaidah fiqih yang berbunyi ”Hukum asal dari segala sesuatu ditetapkan di atas hukumnya semula dan Keyakinan tidak dapat dihilangkan hanya dengan keraguan.”

Ini adalah satu dasar fiqih yang sangat agung, yang di bangun di atas hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam saat di keluhkan padanya tentang laki-laki yang dikhayalkan mendapati sesuatu saat shalat, beliau bersabda:

لَا يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

“Jangan ia beranjak sampai mendengar suara atau mendapati angin (bau)”(Muttafaq ‘Alaih dari hadits Abdullah bin Zaid)

Artinya: hingga ia benar-benar yakin telah berhadats. Kapan kita telah meyakini sesuatu maka tetapkanlah sesuatu itu diatas keyakinan tersebut, dan tidak berubah sesuatu yang telah yakin tersebut hanya sebab timbulnya sebuah keraguan sampai yakin pula dengan bukti yang nyata bahwa suatu yang tadi kita yakini benar-benar telah hilang.

Misalnya, seorang yang yakin telah berwudhu untuk shalat Dzuhur, saat datang waktu shalat Ashar dia ragu apakah masih punya wudhu ataukah sudah batal wudhunya??? Apa yang harus ia lakukan??? Jawab: Ia tetap punya wudhu, sebab itu yang yakin dan tentang batalnya ia ragu-ragu.

Seorang jamaah haji sedang berthawaf, tiba-tiba ia ragu sudah tujuh kali putaran atau baru enam kali??? Apa yang harus ia lakukan??? Jawab: Ia harus tetapkan bahwa thawafnya baru enam kali, sebab yang enam kali dia yakini dan yang tujuh kali masih diragukan.

Seorang yang hendak shalat lalu ia mendapati air dalam ember, tidak tahu persis air itu suci ataukah najis, apa yang harus dia perbuat??? Jawab: Air itu asalnya suci, maka tetapkan diatas kesuciannya sebelum benar-benar yakin air itu telah hilang kesuciannya yaitu dengan berubahnya salah satu dari tiga sifatnya karena “najis”, baunya, atau rasanya, atau warnanya lantaran tercampur oleh najis, jadi yang merubah harus “najis”, jika yang merubah bukan “najis” maka ada lagi pembahasan selanjutnya yaitu : “Apakah ia masih di atas sifatnya sebagai “air mutlaq”( masih bisa di sebut dengan nama “air”) tanpa embel-embel seperti: “Air kopi, air sabun, susu, teh, air kelapa, dan sebagainya”; jika masih dapat disebut dengan nama air “tanpa embel-embel’ tadi maka air tersebut masih diatas kesuciannya meski sudah dipakai oleh orang lain atau sisa orang lain atau lebih populer dengan istilah “Air Musta’mal”.

Jadi air “Musta’mal” alias air sisa dipakai orang lain atau sisa dipakai sendiri tidaklah menghilangkan kesucian air itu, ingat keraguan tidak dapat merubah hukum asal, saya yakin saudara-saudara kita yang menghindari pemakaian air musta’mal sehingga saat berwudhu harus di pancuran atau kran atau air yang banyak (Dua kulah atau lebih)  atau minta tolong temennya untuk mengucurkan air wudhunya, hanya berdasarkan keragu-raguan, betul??? Jika tidak betul alias salah, tolong dalilnya, tapi yang shahih, sebab dalil yang lemah tidak dapat merubah hukum asal sesuatu yang telah ditetapkan oleh sekian banyak nash bahwa air itu asalnya suci dan mensucikan.

Benar, sebagian Ulama’ kita juga ada yang berpendapat bahwa air “musta’mal” telah hilang darinya sifat “mensucikan” dalam arti sudah tidak dapat dipakai bersuci meskipun hakekat air tersebut masih suci, dalil mereka di antaranya adalah hadits Rasul sholallohu alaihi wa sallam :

لا يغتسل أحدكم في الماء الدائم و هو جنب

Janganlah salah seorang kamu mandi di air yang diam sedang ia junub” (HR.Muslim)

Dan hadits :

“Rasululullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang wanita mandi dengan air sisa laki-laki, atau laki-laki mandi dengan air sisa wanita, dan hendaknya keduanya menciduk bersama-sama”. (HR.Abu Dawud & Nasai dan sanadnya shahih)

Apakah hadits-hadits yang semakna dengan ini “mengandung’ pengertian bahwa air sisa wudhu atau mandi atau air “Musta’mal” tidak lagi mensucikan???

Sebelum tegas kita menjawab, mari kita simak dua hadits berikut:

“Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu, Nabi sholallohu alaihi wa sallam pernah mandi dengan air bekas Maimunah rodhiyallohu ‘anha.”( HR> Muslim)

“ Ashabussunan (Abu dawud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah) meriwayatkan: “Sebagian istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mandi di sebuah bejana, lalu beliau datang hendak mandi dari sisa air tersebut, lalu istri beliau berkata: “Sesungguhnya aku (mandi) junub”, beliau bersabda: “Sesungguhnya air itu tidak junub”. ( Hadits shahih dengan berbagai jalannya)

Jadi pelarangan Rosul shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas bukan lantaran air “musta’mal” sudah tidak mensucikan tetapi sekedar pelarangan yang bersifat “Tanzih” artinya boleh saja tetapi sebaiknya tidak. Ini pendapat Ibnu Hajar, Shan’ani, Syaukani.

Sekarang saatnya menjelaskan bahwa ketetapan sebuah hukum syariat baik halalatau haram. Atau makruh atau sunnah, haruslah berdasarkan nash/dalil yang tegas dan jelas serta shahih, jika tidak maka kita akan termasuk dalam Firman Alloh Ta’ala berikut:

[وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ}} [النحل: 116}}

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh Tiadalah beruntung.”(An Nahl:116)

Asal hukum air ialah suci dan mensucikan, dan ini kesepakatan kaum muslimin seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Abdil Bar dalam “Tamhidnya”. Hal itu berdasarkan Firman Alloh Ta’ala:

[وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوراً} [الفرقان: من الآية48}

Dan Kami turunkan dari langit air yang suci dan mensucikan”.(Al Furqan:48)

Kata “Thahur” bermakna suci dan mensucikan, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama kita, diantaranya Ibnu Katsir dalam tafsirnya, ibnu Abdil bar dalam tamhidnya, Imam Nawawi dalam majmu’nya, pemilik kitab “AtTuhfah dan yang lain.

Maka hukum asal ini tidak dapat digeser hanya dengan dalil praduga, katanya & keraguan. Hukum asal tersebut baru bergeser jika ada satu keyakinan yang mantap bahwa air itu telah keluar dari aslinya karena “najis” atau keluar dari aslinya sebab tercampur dengan bahan suci lain yang kemudian merubah nama air tersebut menjadi air “campuran” sepertia: Es, kopi, teh, dan lainnya.

Demikian lah tentang syubhat air musta’mal.mudah-mudahan barmanfaat. Wallohu a’lam…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: