Tinggalkan komentar

Songsonglah Seruan Allah (1)

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا للهِ وَ لِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَ اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَ قَلْبِهِ وَ أَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan” [QS. al-Anfāl (8): 24]

Alangkah agung nikmat yang Allah subhanahu wata’ala anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, ketika Dia menyempurnakan agama-Nya, melengkapi nikmat-Nya dan meridhai Islam sebagai agama-Nya.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu” [QS. al-Mā’idah (5): 3)

Alangkah terhormatnya seorang manusia, saat kembali menuju Allah subhanahu wata’ala, menerima dakwah-Nya dan melihat jalan lurus yang ada di hadapannya. Itulah peran diri yang harus ditunaikan dalam kehidupannya.

Orang-orang yang mau menerima seruan Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, secara dzahir dan bathin, adalah orang-orang yang hidup, sekalipun jasad-jasad mereka telah mati, orang-orang kaya, sekalipun tak memiliki apa-apa, dan mereka adalah orang-orang mulia, sekalipun minim pendukung dan keluarga.

Selain mereka adalah orang-orang mati, sekalipun jasad-jasad mereka masih hidup.

Mereka mati tidak hidup, mereka tidak menyadari[QS. al-Nahl (16): 21]

Mereka adalah orang-orang miskin, sekalipun tumpukan emas memenuhi saku-saku, gudang-gudang, ataupun rekening-rekening mereka. Mereka adalah orang yang diselimuti kehinaan, sekalipun berasal dari keturunan terhormat lagi mulia.

Karena itu, manusia yang paling sempurna hidupnya adalah mereka yang paling sigap menyambut seruan Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka hidup dengannya dan menyampaikan pesan-pesannya. Setiap apa yang diserunya mengandung kehidupan. Barangsiapa kehilangan salah satu bagian dari peran dakwahnya, maka akan hilanglah satu bagian dari hidupnya. Mereka memiliki kehidupan sebesar perkenan dirinya mau menerima Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala memberikan dakwah mulia ini untuk kaum mukminin, menghimpun mereka dalam perasaan iman, menyeru mereka dengan nama iman dan mengingatkan mereka tentang kandungan iman. Dia panggil mereka dengan seruan iman, agar mereka siap sedia menyambut dakwah-Nya dengan sungguh-sungguh dan perhatian, siaga dan sepenuh kekuatan. Itulah sikap seorang mukmin: Menyongsong perintah-perintah Allah subhanahu wata’ala dan seruan dakwah-Nya dengan penuh kekokohan jiwa dan kemantapan hati.

“Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu” [QS. al-A’rāf (7): 171]

Tidak ada seorangpun yang mampu mengemban dakwah dan bertahan menghadapi rintangannya serta mampu hidup dan bergerak di dalamnya kecuali pahlawan perkasa. Dia adalah ummat yang melahirkan generasi beriman yang istimewa, menerima al-Kitab dengan penuh komitmen, dan konsekuen dengan kandungannya. Dia-lah ummat yang memiliki risalah dan tujuan mulia, berjuang dan berjihad untuk-Nya.

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atau segenap manusia” [QS. alHajj (22): 78]

Dia menjadi ummat pemandu dan pemimpin yang dipilih Allah subhanahu wata’ala sebagai saksi kunci bagi seluruh manusia, untuk menegakkan keadilan dan kejujuran, serta meletakkan timbangan rabbaniyyah dan nilai-nilai mulia. Dan dia adalah ummat yang adil dan pertengahan.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbu-atan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu [QS. al-Baqarah (2): 143]

bersambung….

Dikutip dari Majalah As-Silmi Edisi 1 tahun 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: