Tinggalkan komentar

Songsonglah Seruan Allah (2) : Dakwah Menuju Kehidupan

Dakwah inilah yang Allah subhanahu wata’ala tujukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, dakwah menuju kehidupan. Kehidupan yang beragam bentuknya dan berbeda hakekat maknanya, bukan semata-mata kehidupan. Sebuah kehidupan mulia dan hakikat sempurna yang membedakan seorang insan dengan makhluk-makhluk lainnya. Seluruh makhluk lainnya hidup di alam hewan, bergerak dengan dorongan perut dan kemaluan, tidak mengenal tujuan mulia yang harus ditempuh, tidak pula mengenal risalah hidup yang harus diemban dan berjuang di jalan-Nya. Harga dirinya hanyalah beberapa dirham yang memenuhi kantongnya, atau sesuap nasi yang memenuhi perutnya, atau sehelai kain yang menutupi jasadnya. Setelah itu, tak ada apa-apa, kecuali hanya sekedar berlalu-lalang.

Itulah sebuah kehidupan yang menggelorakan qalbu dan akal, aqidah yang menyinari jiwa, hingga terciptalah sesosok diri yang penuh hidayah dan cahaya.

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya” [QS. al-An’ām (6): 122]

Itulah aqidah yang menuntun akal, mengarahkan gerak dan kerja, mencegah penyimpangan dan pemalsuan, menjaga kemampuan dan potensi. Saat seseorang mampu menata fikrahnya dengan lurus, menentukan ruang gerak pencapaian akalnya serta mencegah sesuatu yang yang tak sanggup dipikirkan dan dijangkaunya, saat itulah dia telah mampu mempotensikan daya akalnya untuk bekerja sesuai ruang lingkupnya. Dengan itulah, dia akan mampu mewujudkan hasil-hasil besar sunnah rabbāniyyah di alam semesta, di alam sosial, kebudayaan, dan dalam rentetan berbagai peristiwa sejarah.

Itulah kehidupan yang menghidupkan ruh dan jasad, tanpa terpisah atau berbenturan. Di dalam Islam, penyiksaan tubuh bukan jalan menuju ketinggian dan kesucian ruhani. Perhatian terhadap ruhani tidak berarti bahwa seorang mukmin harus menolak dan menyingkirkan apa saja yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah subhanahu wata’ala, bukan pula dengan menolak hak kehidupan dan perhiasan yang dikeluarkan Allah subhanahu wata’ala untuk hamba-hamba-Nya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu….” [QS. al-Qashash (28): 77]

Itulah pelajaran yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para shahabatnya, yang ditanamkan dalam kalbu dan jiwa mereka, sebuah pelajaran dan pengajaran yang takkan terlupa.

Anas bin Malik radhiallahu’anhu berkata: Tiga orang laki-laki datang ke rumah isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bertanya tentang peribadatan beliau. Saat mereka sudah dikhabarkan tentang ibadah beliau tersebut, mereka merasakan minim sekali ibadah mereka jika dibandingkan dengan beliau. Mereka berkata: “Siapakah kita ini, jika dibandingkan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang kemudian?”. Lalu, salah seorang dari mereka berkata: “Saya akan shalat malam selama-lamanya”. Yang lain berkata: “Saya akan shaum sepanjang tahun tidak berbuka”. Dan yang lain berkata pula: “Saya akan meninggalkan wanita, tidak menikah selama-lamanya”. Lalu, datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Kalian yang berkata ini dan itu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah subhanahu wata’ala, akan tetapi aku shaum dan berbuka, aku shalat dan tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka bukanlah golonganku” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

Allah subhanahu wata’ala menamakan wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya dengan ruh, karena di atasnyalah kehidupan ha-kiki terwujud. Dia namakan juga wahyu-Nya dengan nūr (cahaya), karena di da-lamnya mengandung hidāyah (petunjuk). Serta menamakannya dengan syifā (obat penawar).

“Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehen-daki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat)” [QS. al-Mu’min (40): 15]

“Katakanlah: al-Qur’an itu adalah petun-juk dan penawar bagi orang-orang yang beriman” [QS. Fushshilat (41): 44]

Oleh karena itu, tidaklah aneh jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpamakan iman dan aqidah yang diwahyukan kepadanya sebagai hujan yang diturunkan ke tanah yang gersang, hingga tanah itupun tum-buh subur. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Perumpamaan hidayah dan ilmu yang diutuskan Allah kepadaku adalah seperti hujan lebat yang menimpa selahan tanah. Di antara tanah itu ada yang subur sekali yang mampu menampung air, lalu me-numbuhkan rerumputan dan tunas-tu-nas pohon yang banyak. Ada pula tanah gersang yang hanya menampung air un-tuk minum manusia, untuk pengairan dan pertanian. Serta ada pula tanah mati yang tidak dapat menampung air dan juga tum-buh-tumbuhan. Itulah perumpamaan orang yang faqih dalam agama Allah dan mem-berikan manfaat dengan wahyu yang di-turunkan Allah kepadaku, maka diapun berilmu dan mengajarkan ilmunya. Dan perumpamaan orang yang tidak mengang-kat kepalanya sedikitpun dan tidak mene-rima hidayah Allah yang aku diutus kare-nanya” (HR. al-Bukhāriy dan Muslim)

Itulah dakwah menuju aqidah, Islam dan iman. Allah subhanahu wata’ala menghidupkan me-reka dengan Islam dan iman setelah me-reka mati dalam kekufuran.

Itulah dakwah menuju kebenaran dan kekuatan. Kebenaran yang menjadi landasan didirikannya langit dan bumi, karena Allah subhanahu wata’ala tidak menciptakan keduanya kecuali dengan kebenaran.

“Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar-benar” [QS. al-Hijr (15): 85]

Kitab yang diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala ke-pada penutup para nabi dan rasul-Nyapun adalah kebenaran. Karena Dia  menurunkan-nya dengan kebenaran.

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepa-damu yaitu al-Kitab (al-Quran) itulah yang benar” [QS. Fāthir (35): 31]

“Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepa-damu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya” [QS. Āli ‘Imrān (3): 3]

 

bersambung….

Dikutip dari Majalah As-Silmi Edisi 1 tahun 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: