1 Komentar

Songsonglah Seruan Allah (3): Menuju Puncak Kemuliaan dan Keimanan

Syari`at yang diturunkan Allah subhanahu wata’ala  kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kebenaran dan keadilan. Allah subhanahu wata’ala sempurnakan syari`at-Nya dan dianugerahkan kepada seluruh makhluk-Nya, agar mereka menegakkan kebenaran dan keadilan di antara mereka.

“Dialah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama” [QS. al-Shaff (61): 9]

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan……. [QS. al-Hadīd (57): 25]

Jika kebenaran harus memiliki kekuatan yang dapat melindungi dan dapat menyingkirkan berbagai rintangan dalam perjalanan membawa dan menyampaikannya kepada ummat manusia, maka atas dasar perkataan al-Fāruq, ‘Umar radhiallahu ‘anhu, adalah bahwa bicara kebenaran tidak akan berarti tanpa ada yang mensukseskannya. Sesungguhnya seruan kehidupan ini adalah seruan kekuatan dan jihad yang menjadi sebab Allah subhanahu wata’ala muliakan ummat ini setelah tertimpa kehinaan, Allah subhanahu wata’ala kuatkan setelah mengalami kelemahan. Bendera jihad fī sabīlillah untuk mengikrarkan hak-hak uluhiyyah Allah subhanahu wata’ala di muka bumi, memberikan kebahagiaan ummat manusia terhadap agama-Nya serta memerdekakan mereka dari pengabdian kepada selain-Nya. Mereka adalah hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala, maka saat itulah mereka akan diberikan anugerah kemerdekaan hakiki dan ‘izzah (kemuliaan) yang sempurna. Jihad adalah jalan kemuliaan dan kehormatan bagi ummat, jalan kehidupan yang hakiki.

Sampai-sampai sekalipun sang mujahid mati dan mencapai syahid di jalan dakwah, akan tetapi di sisi Allah subhanahu wata’ala mereka tetap berada dalam kehidupan (sekalipun di kubur-kubur mereka) serta akan memperoleh rizki yang indah yang tak dapat diukur dengan rizki dunia. Mereka adalah orang-orang yang memperkenankan seruan Allah subhanahu wata’ala dan seruan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wassalam.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman” [QS. Āli ‘Imrān (3): 169-171]

Dahulu, kaum muslimin hidup di tengah-tengah hakekat tersebut dengan situasi dan perasaan mereka yang mendalam. Di sisi mereka, jihad adalah kehidupan hakiki. Bukti-bukti sejarah tentang mereka sungguh tidak terhitung. ‘Umar radhiallahu ‘anhu yang menyaksikan langsung pertempuran antara Romawi dan Syam, serta seruan al-Shiddiq untuk jihad merupakan ajakan untuk hidup hakiki yang mulia.

Abu Bakar  radhiallahu ‘anhu mengumpulkan para penasehatnya, di antaranya beliau berkata: “Aku bermaksud mengutus pasukan perang menuju pertempuran dengan Syam, agar Allah memperkuat kaum muslimin, menjadikan kalimat-Nya tinggi, di samping kaum muslimin akan mendapatkan banyak bagian. Barangsiapa yang mati, maka dia mati syahid, dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. Dan barang-siapa yang masih hidup, maka dia hidup membela agamanya dan akan meraih pahala mujahidin dari Allah”.

Semuanya ikut berbicara, ‘Umar, Abdur-Rahman bin `Auf, `Utsman bin `Affan, Thalhah, al-Zubayr, Sa`ad, Abu `Ubaidah, Sa`id bin Zaid dan seluruh yang hadir radhiallahu ‘anhum, semuanya sepakat dengan Abu bakar tentang prinsip kemerdekaan Syam.

Persatuan tercapai, Abu Bakar menyatukan ummat, lalu dia memuji Allah subhanahu wata’ala dan menyerukan seruan jihad. Manusiapun diam, tak ada satupun yang mampu menjawabnya, karena begitu hebatnya pasukan Romawi, yang mereka tahu betapa banyaknya jumlah dan dahsyatnya kekuatan mereka. ‘Umarpun berdiri dan berkata: “Hai seluruh kaum muslimin! Mengapa kalian tidak menjawab khalifah Rasulullah yang menyeru kalian untuk sesuatu yang menghidupkan kalian? Seandainya itu sebuah jarak yang dekat dan perjalanan yang singkat, tentu kalian akan segera berangkat

Kalimat al-Faruq itu keluar dari sumber cahaya, yaitu firman Allah subhanahu wata’ala:

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” [QS. al-Anfāl (8): 24]

Itulah kehidupan hakiki di dalam syurga, sebuah negeri kehidupan, negeri yang memancarkan kehidupan hakiki yang abadi, setelah berpindah dari kehidupan dunia. Negeri akhirat adalah kenikmatan yang harus direbut oleh setiap orang serta jangan ridha untuk digantikan dengan selainnya dan jangan mencari jalan untuk melepasnya. Untuk itu, seseorang harus memiliki persiapan dan perbekalan untuk mencapai akhir perjalanannya. Dengan begitu, akan terbuka cakrawala mulia di hadapannya, cita-cita yang jauh hingga mencapai puncak kemuliaan dan keimanan.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka menge-tahui” [QS. al-‘Ankabūt (29): 64]

bersambung….

Dikutip dari Majalah As-Silmi Edisi 1 tahun 2005

One comment on “Songsonglah Seruan Allah (3): Menuju Puncak Kemuliaan dan Keimanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: