2 Komentar

Siapakah Yang Bersedia Mengemban Panji Tauhid Ini?

Tatkala menyaksikan realita kedukaan penuh nestapa lagi memilukan, yang menimpa sebagian besar kaum muslimin, tentunya hati seorang mukmin akan merasakan suatu kepedihan dan bahkan keputusasaan.

Hatinya akan semakin bertambah pilu manakala menyaksikan bahwa ternyata mereka adalah sekelompok pribadi yang mudah sekali diombang-ambingkan berbagai perbuatan bid’ah dan syirik.

Yang mereka perbuat hanyalah mengumandangkan wirid-wirid bid’ah dan senandung puja-puji syirik sambil melenggak-lenggokkan kepala, terlebih lagi apabila diiringi gemerincing rebana, tatkala mereka memperingati malam-malam yang mereka duga sebagai malam maulid.

Ternyata, hal ini dikerjakan secara komunal dan berjama’ah, sehingga gemanya saling bersahutan, bagaikan air bah yang menerjang deras. Mereka keramatkan kuburan-kuburan dan beristighātsah kepadanya, dan mengusap wajah-wajah mereka dengan tanah kuburan tersebut sambil berguling-guling dan memegang tirai atau kelambu kuburan tersebut. Bahkan terdengar pula teriakan nyaring saling bersahutan yang meluncur deras lagi keras dari mulut mereka, baik laki-laki maupun perempuan, yaitu teriakan kotor:

“Wahai fulan, berilah kami pertolongan…! Wahai fulan, berilah kami rezeki…….”!!!

Terkadang di antara mereka ada yang sampai harus menempuh perrjalanan jauh selama berhari-hari dan dengan menahan rasa penat yang tidak sedikit, tiada lain hanya untuk menepati nadzar mereka untuk menyembelih kurban di hadapan suatu kuburan keramat, seraya berharap mendapatkan pahala dan berkah, serta berharap memperoleh bantuan dan pertolongan.

Subhānallah!…Sudah begitu parahkah gambaran Islam yang ada dalam benak orang-orang sesat tersebut? Sesungguhnya hal ini merupakan salah satu hasil penjajahan dan konspirasi jahat (atau bualan) yang dilakukan oleh kaum Darwisy (pemuka Sufi) dengan beragam kesyirikan yang mereka jajakan sebagai  barang dagangan yang ditujukan kepada mayoritas kaum muslimin. Dan betapa mengenaskannya kenyataan ini apabila kita analogikan dengan gambaran kehidupan jahiliyyah pada generasi sebelumnya!

Maka, bagaimana mungkin kita dapat merasakan nikmatnya makan dan minum, sementara kita masih terus menyaksikan khurāfāt ini banyak dipamerkan oleh kebanyakan kaum muslimin yang awam?

Dan masih mungkinkah bagi kita untuk merasakan kenikmatan hidup, sementara kesesatan ini masih terus menghinggapi hati-hati mereka, yang merupakan wujud persekongkolan jahat kaum Darwisy, para ahli khurāfāt dan para durjana penyebar kerusakan?

Sesungguhnya kaum muslimin (saudara kita) yang banyak terjatuh dalam perbuatan ini adalah amanat (dakwah) yang diembankan kepada kita, maka di manakah para ulama serta di manakah para da’i dan reformis dakwah, baik yang ada di barat maupun di timur?

Apa sajakah yang telah kita korbankan untuk memaparkan dan menjelaskan secara gamblang misi utama agama ini, yaitu menegakkan panji tauhid dan syahādāt?

Sesungguhnya panji tauhid adalah panji utama yang diperjuangkan oleh para nabi, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku [QS. al-Anbiyā’ (21): 25]

Panji ini merupakan wasiat yang diestafetkan Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam kepada Mu’adz bin Jabal  ketika diutus menjadi duta da’wah ke Yaman, yaitu untuk memulai dakwahnya dari hal yang paling penting hingga yang penting berikutnya, di mana beliau bersabda:

(( إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَ لَيْلَةٍ…….. ))

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab, oleh karena itu ketika engkau berada di hadapan mereka maka ajaklah mereka untuk bersaksi dengan Lā Ilāha Illallah dan bahwa Muhammad adalah rasulullah. Dan apabila mereka menyambut ajakanmu tersebut, maka beritahukanlah kepada mereka tentang perintah Allah, yaitu kewajiban mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari-semalam…” [HR. al-Bukhāri dalam Kitāb al-Zakāh Bāb Wujūb al-Zakāh (3/261) No. 1395, dan Muslim dalam Kitāb al-Īmān, Bāb al-Du’ā ilā’ al-Sya-hādatayn (1/50) No. 19]

Bahkan meskipun di saat sedang meregang nyawa menghadapi sakaratul maut, beliau tetap mengobarkan panji tauhid tersebut, yaitu dengan memperingatkan ummatnya tentang bahaya perbuatan syirik, di mana beliau bersabda:

(( لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُوْدِ وَ النَّصَارَى، اِتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ))

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabinya sebagai masjid (keramaian, tempat ibadah atau wisata religius)” [HR. al-Bu-khāri dalam Kitāb al-Maghāzī Bāb Maradh al-Nabiy saw (8/140) No. 4445, dan Muslim dalam Kitāb al-Masājid wa Mawādhi’ al-Shalāh Bāb al-Nahyi ‘an Binā’i al-Masājid ‘alā al-Qubūr (1/377) No. 531]

Alangkah berharapnya ummat ini terhadap wasiat semacam ini? Dan alangkah berharapnya ummat ini untuk dapat memegang teguh wasiat ini dengan seoptimal mungkin? Hal ini tiada lain dikarenakan keuniversalan dan keagungan misi tauhid merupakan titik tolak utama dari perjalanan sebuah da’wah, dan merupakan tanggung jawab da’wah paling asasi yang harus diberikan porsi yang sangat memadai.

Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berduka-cita dengan sangat mendalam, manakala dia merasakan bahwa misi utama kehidupannya hanyalah menyibukkan diri dari hal yang kurang utama, atau bahkan malahan dengan me-lalaikan hal yang utama tersebut. Atau ketika hidupnya hanya berputar dari satu logika filsafat mantiq ke logika lainnya, dan bahkan dengan melalaikan misi tauhid!

Sebaliknya, terkadang kitapun menjumpai sekelompok da’i yang memiliki kesensitifan da’wah dan kesungguhan untuk mengemban misi tauhid, namun mereka melakukan beberapa kesalahan, yaitu keinginan meniti jalan tauhid namun dengan membuat orang lain berpaling dan lari dari dakwahnya. Maka. Alangkah nikmatnya apabila kita dapat menyandingkan dua hal yang berbeda sebagaimana gambaran tersebut di atas, yaitu meniti kemurnian manhaj (dengan meng-utamakan misi tauhid) dan memiliki kecakapan dalam mempergunakan sarana (dengan tidak membuat orang lain berpaling)!

Maka, siapakah yang bersedia

mengemban panji tauhid ini?

Sumber: Majalah as-Silmi edisi 1

Artikel: https://hasmijaksel.wordpress.com

2 comments on “Siapakah Yang Bersedia Mengemban Panji Tauhid Ini?

  1. Siapa lagi kalau bukan kita?

  2. sungguh mengerikan ya kesyirikan di negri ini.
    Semoga 4JJI lindungi kita dr fitnah syirik tsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: