Tinggalkan komentar

Perang Abadi (3): Tentara-tentara Syetan dan Serangan-serangannya

Dalam hal ini, menurut Syaikh Muhammad Shafwat Nuruddin –Pimpinan Jama`āh Anshār al-Sunnah al-Muhammadiyyah Mesir[1]–, bahwa syetan bekerja keras mempengaruhi manusia dengan berbagai strategi, bahkan menjadikan mereka tentara-tentaranya yang siap selalu melaksanakan apa yang direncanakannya. Menurut beliau ada 4 pasukan yang digelar oleh syetan dengan dibagi menjadi 2 front, yaitu front Dzāhirah (nyata) dan front Khāfiyyah (tersembunyi):

Pasukan yang berada di front  nyata terdiri dari:

  1. Orang-orang kafir yang dzalim.
  2. Para pelaku maksiat, yaitu orang-orang Islam yang terbuai oleh kesenangan dunia.

Sedangkan pasukan yang berada pada posisi tersembunyi, yaitu:

  1. Kaum Munafiqin, yang menyatakan loyal secara dzahir kepada Islam, akan tetapi menyembunyikan permusuhan.
  2. Orang-orang yang ikhlas, semangat dalam beramal dan gemar berbuat, akan tetapi semakin bertambah banyak dia mendengarkan slogan-slogan modernisme yang dipropagandakan orang-orang kafir, maka terpengaruhlah dia dengan orang-orang kafir tersebut dan mendukung seluruh upaya mereka.

Pasukan ini digelar –terutama front orang-orang kafir yang dipelopori oleh Yahudi dan Nashrani– dalam rangka melakukan dua serangan kepada para pembela dan penganut al-haqq (kaum muslimin). Kedua serangan itu adalah:

  • 1. al-Ghazwu al-`Askariy (invasi militer) dengan melakukan intimidasi, teror fhisik, pembersihan wilayah dan pembasmian kaum muslimin (genocide).

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu bercerita bahwa Nabi shallallahu’alaihi wassalam pernah melakukan shalat di Baytullah, saat itu Abu Jahal dan para pendukungnya sedang duduk-duduk. Sebagian rekannya berkata kepada yang lain:

Siapakah di antara kalian yang berani meletakkan kulit bangkai di punggung Muhammad, saat dia sedang sujud?

Lalu, seorang yang paling buruk di antara mereka, yaitu ‘Uqbah bin Abi Mu’ith bangkit berdiri, kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam sambil memandang dan menunggu Nabi shallallahu’alaihi wassalam melakukan sujud. Lalu dia letakkan kulit bangkai itu dipunggung beliau. Sambil tertawa, mereka saling melempar tuduhan satu sama lain. (HR. al-Bukhāriy: 1/54)

‘Ammar bin Yasir radhiallahu’anhu yang masuk Islam bersama ayah dan ibundanya disiksa di tengah terik matahari yang sangat panas. Sang ayah wafat, setelah mengalami derita siksaan yang begitu dahsyat. Sedangkan sang ibu, yaitu Sumayyah ditusuk kemaluannya dengan besi panas oleh Abu Jahal. Di saat Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam melintasinya, beliau berkata:

(( صَبْرًا آَلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ ))

Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah syurga” (Sīrah Ibnu Hisyām: 1/ 319-320)

Menurut Muhammad Quthb, serangan orang-orang kafir ini tidak memerlukan alasan dan sebab, karena, kedengkian mereka telah dijelaskan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam ayat-ayat-Nya, di antaranya:

“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS. al-Baqarah (2): 109]

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” [QS. al-Baqarah (2): 120]

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” [QS. al-Baqarah (2): 217]

  • 2. al-Ghazwu al-Fikriy (Invasi Pemikiran).

Menurut Muhammad Quthb dalam “Wāqi ‘unā al-Mu’āshir” bahwa yang dimaksud dengan al-Ghazwu al-Fikriy adalah:

( اَلْوَسَائْلُ غَيْرُ الْعَسْكَرِيَّةِ الَّتِي اَتَّخَذَهَا الْغَزْوُ الصَّلِيْبِيُّ ِلإِزَالَةِ مَظَاهِرِ الْحَيَاةِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ وَ صَرْفِ الْمُسْلِمِيْنَ عَنِ التَّمَسُّّكِ بِاْلإِسْلاَمِ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْعَقِيْدَةِ وَ مَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنْ أَفْكَارٍ وَ تَقَالِيْدَ وَ أَنْمَاطِ سُلُوْكِ )

“Sarana-sarana non militer yang digunakan oleh pasukan salib untuk menghilangkan simbol-simbol kehidupan Islami dan memalingkan kaum muslimin dari sikap komitmen terhadap Islam, yang berkaitan dengan aqidah, pemikiran, adat istiadat dan sikap hidup yang berhubungan dengannya

Menurut Shafiyurrahman al-Mubarakfuriy dalam “al-Rāhiq al-Makhtūm”, dikisahkan bahwa dahulu, di saat kaum musyrikin Quraisy melihat Nabi shallallahu’alaihi wassalam tidak dapat dihalang-halangi dengan berbagai bentuk intimidasi dan teror, mereka mulai beralih memikirkan strategi lain, di antaranya yang terangkum dalam 4 bentuk:

  1. Melakukan ejekan, hinaan, olok-olok, pendustaan dan mentertawai. Tujuannya adalah untuk menggoncang spirit jiwa kaum muslimin dan merendahkan mereka. (Baca: QS. 38: 4 dan QS. 83: 29-33)
  2. Mengacak-acak pengajaran, menyebarkan syubhat dan menggencarkan propaganda dusta. Tujuannya adalah untuk menghalangi kaum awam, hingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan dakwah beliau. (Baca: QS. 13: 6-7)
  3. Menganggap al-Qur`an sebagai dongeng atau legenda nenek moyang. (Baca: QS. 25: 4-5, 7 dan QS 16: 103)
  4. Mengadakan tawar menawar win-win solution untuk mempertemukan antara Islam dan Jahiliyah. (Baca: QS. 65: 9)

Sumber: Majalah as-Silmi edisi 1

Artikel: https://hasmijaksel.wordpress.com


[1] Salah satu Harakah Sunniyyah terbesar di dunia yang telah memiliki banyak cabang di berbagai negara, pertama kali didirikan oleh Syaykh Muhammad Hamīd al-Faqiy. Di antara tokoh Jama’ah ini yang otoritas keilmuannya diakui dunia adalah: Syaykh ‘Abdurrahmān al-Wakīl, Muhammad Nasīb al-Ri-fā’iy, ‘Abdur Razzāq ‘Afīfiy, Muhammad ‘Abdul Wahhāb al-Banā, Dr. Muhammad Khalīl al-Harrās dan lainnya.

(( صَبْرًا آَلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ ))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: