Tinggalkan komentar

URGENSI JAMA’AH DA’WAH

Bagi seorang muslim yang mengetahui Kitab Allah subhanahu wata’ala dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak akan asing lagi bahwa jama`ah merupakan sifat kaum muslimin yang amat agung dan kewajiban Islam yang amat utama. Sedangkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan hal tersebut sangatlah banyak.

Untuk lebih menyelami pentingnya sebuah amal jama`i atau berjama`ah dalam berdakwah, marilah kita renungkan hal-hal di bawah ini:

  • Beramal jama`i berarti berta`āwun `alā al-birri wa al-taqwā (bergotong royong dalam kebaikan dan ketaqwaan), yang diperintahkan Allah subhanahu wata’ala dengan tegas dalam firman-Nya:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerja-kan) kebajikan dan taqwa” [QS. al-Mā’idah (5): 2]

Dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bergotong-royong dalam melakukan berbagai kebaikan yaitu al-birr dan meninggalkan kemunkaran yaitu al-taqwā serta mela-rang mereka untuk tanāshur (saling membela) kebatilan dan bergotong-royong di atas dosa dan hal-hal yang diharamkan.[1]

Apakah dakwah masuk dalam kebaikan yang wajib untuk saling ta`āwun dan tanāshur ataukah masuk dalam dosa yang haram (atau mungkin bid`ah???) untuk saling ta`āwun dan tanāshur, wahai orang-orang yang berakal?

Jika dakwah merupakan salah satu usaha kebaikan dan ketaqwaan, maka merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk bertanāshur dengan sesama saudaranya yang lain yang merupakan wujud kesempurnaan dari keimanan seseorang.

  • Beramal jama`i merupakan perwujudan utuh dari suatu amal nushrah (pembelaan) terhadap agama Allah subhanahu wata’ala. Dengan beramal jama`i itulah amal nushrah dapat terwujud serta semakin kokoh dan gagah perkasa di hadapan musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala dan Din Islam.

Inilah amal mulia yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya, bahkan amal ini adalah amal yang dilakukan oleh para nabi.

(Lihat: QS. 20: 29-32, 3: 146)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(( مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَ أَصْحَابُ يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَ يَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ ))

Tidak ada satu nabipun yang diutus Allah pada suatu ummat sebelumku, kecuali ada di antara ummatnya kaum hawariy dan para shahabat yang berpegang pada sunnahnya dan mengikuti perintahnya(HR. Muslim: 80)

Hawāriy dalam hadits ini adalah “orang-orang yang membela sunnah-sunnahnya dan menapaki petunjuknya[2]

(( مَنْ يَنْصُرُنِيْ حَتَّى أُبَلِّغَ رِساَلاَتِ رَبِّي ))

Siapakah yang akan menolongku, hingga aku dapat menyampaikan risalah Rabbku?(HR. Ahmad: 3/339)


[1] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur`ān al-`Adzīm (Beirut, Muassasah Isla-miyyah, 2003) Cet ke-2, 1/478.

[2] Mirqāh al-Mashābīh: 1/392-393.

Sumber: Majalah as-Silmi edisi 1

Artikel: https://hasmijaksel.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: